Iklan
Showing posts with label Tips Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Tips Bisnis. Show all posts

Friday, 27 April 2012

Usaha Instan dengan Waralaba

Usaha Instan dengan Waralaba

04:10

Anda pernah minum kopi instan? Tanpa menambah gula atau susu, tinggal seduh, secangkir kopi siap diminum.

Begitupun dengan usaha. Mirip dengan kopi instan, usaha instan adalah usaha yang tinggal Anda menjalankan saja, tak perlu punya pengetahuan bisnis yang rumit seperti pemasaran, promosi, stok barang dan sebagainya. Semua telah disediakan dalam satu paket yang bisa dibeli dengan harga tertentu. Usaha jenis ini disebut dengan usaha dengan sistem franchise atau waralaba.

Usaha instan sangat praktis, karena kita tidak perlu ribet seperti membuka usaha yang betul-betul dari nol. Seorang teman saya yang berniat membuka usaha pencucian mobil misalnya, harus mempersiapkan banyak hal sendirian, mulai dari lokasi, peralatan, tenaga kerja, serta melakukan promosi agar dikenal oleh masyarakat.

Belum lagi setumpuk persiapan lainnya. Wah, kalau dibuat daftarnya, ada lebih dari 20 jenis pekerjaan yang harus ia lakukan dalam membuka usaha. Cukup banyak dan - percayalah - sangat memusingkan.

Dengan sistem waralaba, urusan jadi mudah. Anda bisa punya usaha tanpa harus dibingungkan dengan masalah teknis usaha mulai dari pembukaan sampai dengan menjalankannya. Sebab beberapa franchisor atau pemilik awal dari usaha tersebut akan memberikan kiat-kiat mulai dari memulai usaha, menjalankannya serta mempromosikannya. Bahkan Anda bisa menggunakan nama usaha tersebut yang - seringkali - sudah sangat terkenal.

Ada uang, ada barang 
Sekilas, membuka usaha dengan sistem waralaba terlihat mudah, ya. Tinggal siapkan uang, usaha Anda sudah jadi dan Anda tidak perlu coba-coba menjalankannya. Bahkan, untuk Anda yang belum pernah buka usaha pun, waralaba memungkinkan Anda untuk tetap memiliki usaha karena beberapa franchisor memberikan juga bimbingan kepada sang pemilik dan bantuan operasional sebelum Anda siap memulainya sendiri.

Tapi seperti kata pepatah, ada harga ada barang. Salah satu konsekuensi dari membuka usaha dengan sistem franchise adalah bahwa Anda perlu menyediakan dana yang - buat sebagian orang - cukup besar untuk bisa mengambil franchise. Harga tersebut berkisar dari Rp 3 juta sampai dengan tidak terbatas, bahkan miliaran. Nah seperti saya utarakan di atas, tentunya fasilitas yang diberikan oleh franchisor seharga miliaran biasanya sih jauh lebih bagus dari yang Rp 3 juta.

Selain itu, seperti dikutip dari Nova, usaha dengan sistem waralaba biasanya tidak membolehkan Anda untuk berinovasi dengan menjalankan hal-hal di luar yang sudah disarankan. Misalnya, kalau franchisor bilang bahwa usaha tersebut harus memasang plang yang lokasinya di sini atau di situ, maka Anda harus nurut. Kalau Anda memasang plang di luar dari apa yang sudah diharuskan, bisa kena sangsi (seperti peringatan atau pencabutan izin franchise-nya). Ya, karena Anda membuka usaha yang merknya biasanya sudah dikenal masyarakat, jadi wajar kalau mereka tidak ingin image usahanya berubah hanya karena Anda sebagai salah satu pengambil waralabanya menjalankan sistem pemasaran yang berbeda. Jadi, untuk Anda yang ingin berinovasi sambil menjalankan usaha, waralaba bukan tempatnya. Anda tidak bisa bebas berimprovisasi, bahkan beberapa franchisor sangat ketat tentang hal ini dimana sampai masalah jenis kertas tissue pun mereka yang tentukan.

Cocok tak cocok
Tak perlu bingung untuk memutuskan mengambil waralaba atau tidak. Kalau Anda memang mau usaha, sistem ini memang memberikan banyak kemudahan dan - harus diakui - risikonya cukup rendah dibandingkan dengan membuka usaha sendiri, walaupun ada juga beberapa kelemahannya.

Jadi kesimpulannya, usaha dengan sistem waralaba biasanya bagus untuk Anda yang:
1. Tidak pernah punya pengalaman usaha tapi ingin menjalankan usaha untuk yang pertama kalinya,
2. Tidak mau direpotkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan operasional atau teknis dalam membuka usaha,
3. Tidak mau mengambil risiko terlalu tinggi,
4. Punya dana yang cukup.

Sebaliknya, sistem ini tidak cocok buat Anda yang :
1. Dananya tidak begitu besar,
2. Ingin mengembangkan usaha tapi sesuai dengan keinginan pribadinya,
3. Tidak mau didikte dan diatur orang lain,
4. Siap menerima risiko yang lebih besar.

Jadi mana yang Anda pilih? Jujur, sebetulnya tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Sebab sebagus apapun sebuah sistem dibuat untuk menjalankan usaha, tapi kalau yang menjalankan usaha itu tidak mampu dan tidak serius, maka percuma saja. Jadi, kalau Anda ingin usaha, yang penting adalah keseriusan Anda dalam menjalankannya. Bukan begitu?

Thursday, 26 April 2012

10 Tips Meraih Dukungan Keluarga untuk Berwirausaha

10 Tips Meraih Dukungan Keluarga untuk Berwirausaha

22:35
Untuk menjadi enetrpreneur memang perlu dukungan dari seluruh keluarga, baik itu istri kalo sudah menikah juga dari orang tua kita. Kalau keluarga kita sudah memahami enterpreneurship tentu takan begitu susah memberi dukungan ke kita, karena faktanya entrepreneur sering tumbuh pada lingkungan keluargayang bermental entrepreneur tetapi saat entrepreneur tumbuh dari keluarga karyawan, pertentangan sering muncul.

Entrepreneur memahami bagaimana seluk beluk bekerja untuk diri sendiri dan mereka telah mengalaminya langsung. Namun bagi orang-orang yang hidup dan tumbuh dari gaji bulanan, entrepreneurship atau kewirausahaan sering dirasakan terlalu berisiko.

Pendapat mereka ada benarnya: Anda menggunakan uang Anda sendiri, meminjam dari pihak lain, dan bekerja sangat keras seperti kesetanan. Semuanya hanya supaya mraih sukses dan mencari nafkah dan membayar pengeluaran sehari-hari. Dan karena Anda masih muda, mungkin mereka berpikir Anda akan menjalani fase labil.

Tak peduli alasannya, yang terpenting ialah orang-orang yang Anda kasihi mungkin tidak memahami apa yang Anda coba lakukan. Sehingga kini tergantung pada Anda untuk membantu mereka memahami semuanya dalam sudut pandang Anda. Berikut ialah 10 cara untuk mengubah kekhawatiran mereka menjadi antusiasme terhadap ide bisnis Anda:

1.  Jelaskan rencana Anda.

Mereka mungkin membutuhkan lebih dari sekadar elevator pitch untuk memahami sepenuhnya apa yang Anda sedang perjuangkan. Itu berarti Anda harus lebih menyiapkan diri dalam menjelaskannya daripada saat bertemu dengan investor potensial bahkan. Jelaskan anggaran, tujuan strategis, pelanggan potensial, rencana pemasaran dan rencana lainnya yang sudah Anda buat yang akan menunjukkan bahwa Anda sudah memikirkan ide bisnis itu masak-masak.



2.  Tunjukkan mereka hasil survei Anda.

Anda tidak serta merta mendapatkan ide bisnis dari antah berantah. Tunjukkan pada keluarga artikel, statistik, demografi dan informasi pasar yang menegaskan adanya kebutuhan akan produk atau jasa yang Anda hasilkan dengan bisnis tersebut. Atau berikan informasi pendukung lainnya yang mendukung ide bisnis itu.

3.  Berikan contoh.

Mungkin mereka sudah mengetahui kisah-kisah gagal entrepreneur, jadi kini saatnya Anda tunjukkan kisah sukses entrepreneur. Bicarakan mengenai sosok-sosok yang mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari, bukan membicarakan entrepreneur super sukses yang tak mereka kenali seperti Steve Jobs. Jika mungkin, ceritakanlah jenis bisnis yang serupa  dengan yang Anda tekuni sehingga mereka bisa dengan mudah menemukan benang merahnya.

4.  Hubungkanlah.

Sebagian orang tidak menganggap pemilik UKM sebagai entrepreneur tetapi dalam kenyataannya mereka mengambil risiko yang sama, bekerja lebih panjang membangun bisnisnya, berhemat dan berutang untuk membuat bisnisnya sukses. Keluarga Anda mungkin akan bisa lebih memahami alasan Anda berbisnis online, misalnya, dengan memberikan sekilas perbandingan dengan bisnis makanan yang sukses di sekitar lingkungan Anda.

5.  Libatkan keluarga.

Jika Anda meneliti kembali ide Anda dan meminta nasihat, mereka mungkin akan tertarik untuk menjelajahi segala kemungkinannya. Bisa jadi orang-orang yang Anda kasihi ini mampu memberikan sumbangan ide dari gaya logo, menemukan pasar yang menjanjikan untuk dibidik untuk produk Anda, dan sebagainya. Anda mungkin terkejut dengan saran-saran yang mereka berikan saat mereka Anda libatkan secara aktif.

6.  Tunjukkan rencana cadangan.

Terapkan dalam pikiran mereka agar tidak terkejut dengan memberikan rencana cadangan. Menyusun rencana cadangan tak hanya akan mengurangi risiko Anda, tetapi juga akan menunjukkan bahwa Anda menyadari kemungkinan kegagalan.



7.  Kesadaran pentingnya akunting.

Mungkin Anda tidak ingin berbagi seluruh anggaran dengan keluarga Anda. Namun, dengan menjelaskan sejumlah rencana keuangan Anda termasuk cara mengurangi investasi hingga laba mulai dihasilkan secara signifikan akan mengurangi kecemasan mereka bahwa Anda menggadaikan kehidupan Anda untuk impian yang belum sepenuhnya jelas. Anda mungkin melakukan kesalahan kelak tetapi Anda setidaknya bisa menunjukkan bahwa dana yang Anda miliki akan dibelanjakan dengan penuh kehati-hatian dan tanggung jawab penuh.

8.  Tunjukkan sukses kecil sebelum sukses besar.

Sukses kecil di awal misalnya mendapatkan klien pertama atau mendapatkan penjualan pertama akan menjadi sebuah bukti untuk meyakinkan keluarga bahwa pilihan Anda tidak salah. Tunjukkan sejumlah keberhasilan kecil daripada memberikan janji-janji muluk yang belum nyata.



9.  Minta lebih banyak dukungan.

Apakah paman Anda seorang wirausahawan? Apakah teman dekat ayah Anda memiliki bisnis yang lumayan besar? Minta bantuan mereka untuk mendiskusikan hal ini dengan anggota keluarga lainnya yang belum menyetujui pilihan Anda untuk berbisnis. Dengan demikian, Anda tak hanya akan berjuang sendirian. Mereka akan membantu Anda dengan cara yang mereka bisa pula.

10.  Biarkan apa adanya.

Bila keluarga Anda belum sepenuhnya memahami apa yang Anda lakukan dan belum yakin bahwa wirausaha adalah pilihan yang tepat, tak ada cara lain selain membiarkan hal itu demikian adanya. Namun Anda harus membuat keputusan sendiri. Dengarkan nasihat mereka, tetap cintai dan hormati mereka dengan tetap melakukan apa yang Anda telah yakini. Uang Anda, karir Anda tetap menjadi keputusan Anda. (YoungEntrepreneur.com/ *AP)

sumber : www.eciputra.com

Labels

Labels

Labels

Copyright © Blog'e Aji Bintara. All rights reserved. Template by CB Blogger