Iklan
Showing posts with label Motivasi Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Motivasi Bisnis. Show all posts

Wednesday, 22 May 2013

Meniru Entrepreneurship Cara Pak Ogah

14:33
Sudah lebih dari seperempat abad fenomena ‘Pak Ogah’ exist di jalan-jalan yang tidak dijaga oleh Polisi. Tikungan sempit, u-turn, jalur sempit untuk satu mobil, jalan rusak dan sejenisnya menjadi pasar bagi jasa informal yang kemudian secara umum kita mengenalnya sebagai ‘Pak Ogah’ ini. Sebagaimana ‘penjual jasa’ , mereka ada yang sukses dan ada pula yang tidak. Karena hampir setiap hari ketemu mereka ini di perjalanan dari dan ke rumah saya di Cibubur, saya bisa ‘mengamati’ siapa ‘Pak Ogah’ yang sukses dan siapa yang tidak – bagus untuk pembelajaran entrepreneurship bagi kita semua.

Jenis pertama adalah ‘Pak Ogah’ yang tidak sukses. Yang saya amati ini berada di jalan besar dua jalur dan masing-masing jalur bisa dilewati sampai empat mobil –jalan ini adalah Jalan Raya Alternatif Cibubur. Di salah satu u-turn di depan komplek kami CitraGrand, hampir sepanjang waktu u-turn ini tidak dijaga polisi, kecuali pada saat bapak Presiden kita pulang atau pergi ke rumahnya di Cikeas – yang membuat semua u-turn sepanjang perjalanannya dijaga polisi.

Inilah nampaknya salah satu pasar yang sudah di-‘kapling’ oleh sejumlah ‘Pak Ogah’ secara bergantian. Setiap ‘jam kerja’ masing-masing, umumnya ‘Pak Ogah’ yang bekerja di sini bekerja sendirian atau kalau berdua – masing-masing mengurusi satu jalur dengan tidak berkoordinasi satu sama lain.



 Mengapa saya kategorikan tidak sukses ‘Pak Ogah’ yang disini ?, lihat posisi yang diambil pada gambar  1 disamping. Dia selalu berdiri di kanan kita (pengemudi) – pas kita sedang memutar, mungkin maksudnya agar mudah menerima uang dari para pengemudi. Tetapi sangat sedikit pengemudi yang mau memberi uang ke ‘Pak Ogah’ yang mangkal di lokasi ini, mengapa ?

Pengemudi akan cenderung menengok kekiri – melihat mobil-mobil dari arah yang berlawanan, sehingga keberadaan ‘pak Ogah’ di sisi kanannya tidak memberikan value bagi si pengemudi. Jadi meskipun potensi pasarnya besar – jalan ini sangat padat bahkan cenderung macet, ‘Pak Ogah’-nya kurang bisa menangkap peluang yang ada – karena dia salah mengambil posisi sehingga tidak bisa memberikan value proposition yang berarti bagi ‘pasar’-nya.


Perhatikan bandingannya dengan ‘Pak Ogah’ lain yang bekerja secara team di terowongan bawah tol – yang menjadi jalan belakang bagi komplek kami dan komplek-komplek lain di Cibubur. Terowongan ini hanya bisa dilalui oleh satu mobil, jadi harus bergantian dari masing-masing arah – lihat di gambar 2.

Ini menjadi pasar 24 jam bagi team ‘Pak Ogah’ yang setiap ‘jam kerja’-nya minimal bertugas dua orang – masing-masing menjagai ujung terowongan. Hampir setiap mobil yang lewat terowongan ini selalu memberi uang ke ‘Pak Ogah’ di salah satu ujung terowongannya.

Mengapa para pengemudi cenderung memberikan uang ke team ‘Pak Ogah’ yang ini ?, karena mereka berhasil memberikan value bagi para pengemudi yang harus mengantri di ujung terowongan masing-masing menunggu gilirannya lewat. Tanpa keberadaan ‘Pak Ogah’ di masing-masing ujung terowongan tersebut, pasti akan terjadi masalah ketika mobil-mobil dari arah yang berlawanan bertemu di dalam terowongan. Dengan adanya team yang bekerja dengan komunikasi isyarat yang baik dari masing-masing ujung, potensi masalah tersebut dapat dihindari di jam-jam sibuk sekalipun.

Bagi team ‘Pak Ogah’ yang bekerja di terowongan ini, pasar sebenarnya tidak terlalu besar karena ini hanyalah ‘jalan belakang’ bagi komplek-komplek yang ada di daerah tersebut. Tetapi pasar yang tidak terlalu besar ini berhasil diolahnya dengan value proposition yang memang benar-benar dibutuhkan oleh ‘pasar’-nya. Mereka nampaknya juga punya team yang baik dan lengkap dengan metode berkomunikasi, berbagi hasil, berbagi jam kerja dlsb.

Lantas pelajaran apa yang bisa kita ambil dari dua jenis ‘Pak Ogah’ ini – yaitu yang sukses dan yang tidak ?. Yang tidak sukses hanya melihat potensi pasar yang besar, tetapi tidak berhasil merumuskan value proposition yang dibutuhkan pasarnya. Dia juga tidak membangun team yang bisa merealisasikan value proposition tersebut.

Yang sukses dia tidak harus menggarap potensi pasar yang besar. Pasar yang kecil sekalipun – tetapi bila pasar ini bener-bener dilayani dengan fokus, dengan value proposition yang dapat dirasakan langsung oleh ‘pasar’nya – maka pasar yang kecil inipun bisa menghasilkan pendapatan yang besar. Yang sukses ini bekerja secara team yang efektif dalam berkomunikasi dan berbagi waktu serta hasil.

Di bisnis apapun yang (ingin) Anda terjuni, siapkan value proposition ini secara maksimal – yaitu apa yang Anda (akan) berikan ke pasar Anda yang lebih dari yang lain, yang bener-bener menjawab kebutuhan pasar atau bener-bener mengatasi problem yang mereka hadapi. Untuk merealisasikan value proposition inipun sangat bisa jadi Anda butuh team yang mampu berkomunikasi dan berbagi dengan baik. InsyaAllah Anda menjadi ‘Pak Ogah’ yang sukses dibidang Anda masing-masing. Amin.

Friday, 11 January 2013

99 Tanda Orang Yang Berbakat Kaya Menurut William Tanuwidjaya

99 Tanda Orang Yang Berbakat Kaya Menurut William Tanuwidjaya

20:13
Satu hal yg perlu diketahui, seseorang untuk menjadi kayak tak perlu harus jenius. Namun memang diperlukan karakter dan kualitas tertentu untuk menjadi kaya. Dibawah ini ada 99 tanda orang yang berbakat kaya, coba anda simak baik-baik apakah ada ciri-cirinya pada kita...? Kalo tidak ada sama sekali  dari semua itu berarti bakatnya jadi orang miskin...he he.
  1. Berpikir seperti layaknya orang kaya : Orang yang berbakat kaya selalu belajar berpikir dan bertindak layaknya orang kaya.
  2. Tidak berpikir konsumtif :Orang yang berbakat kaya akan selalu berpikir tentang apa yang mereka akan lakukan dengan uang agar dapat berlipat ganda.
  3. Pintar mengelola arus kas : Selalu menghitung banyak rupiah yang tersisa setelah dikurangi kebutuhan hidup yamng sifatnya mendasar.
  4. Mampu membedakan aset dan liabilitas : Mereka selalu memikirkan apakah aset2 itu menghasilkan arus kas masuk atau justru keluar.
  5. Selalu membangun intengible aset (aset non fisik ):yaitu selalu menjaga hubungan dengan relasi, teman, , jaringan, kepercayaan, cara berpikir, visi, pemikiran, keyakinan, dan otokritik.
  6. Bekerja untuk belajar, bukan demi uang : Mereka bekerja untuk orng lain sebenarnya untuk mempelajari sesuatu, biasanya mereka memepelajari sistem bisnis, bagaimana aliran uang, cara membangun jaringan relasi, dll.
  7. Sangat percaya diri : Mereka percaya akan kemampuan yg dimilikinya untuk mendapatkan kekayaan.
  8. Mengenali dirinyya dengan baik : Mereka paham potensi, potensi, kelemahan, serta karakter-karakter spesifik yang dia miliki.
  9. Memandang uang sebagai organisme : Merka menanam uang dilahan yg tepat, memeliharanya, membersihkan hamanya, dan disaat yang tepat memetik hasilnya.
  10. Tak pernah mengeluh, merasa miskin dan kekurangan
  11. Siap mental untuk menjadi kaya
  12. sangat mampu mengendalikan diri : Orang2 yang super kaya selalu menampakan mimik yang standar, senym yang bijak,dan tampaknya, well semuanya terkendali, walaupaun pasar pada saat itu sedang pora-poranda. Orang kaya sangat mampu mengendalikan diri agar sikapnya tidak dapat dibaca oelh publik.
  13. Memahami logika ” Take n Give ” :Orang kaya sangat paham dengan pameo ” There’s no free lunch “tak ada sesuatu yang gratis.
  14. Berorientasi pada proses : si kaya memikirkan nilai guna yang seperti apa untuk mendapatkan uang banyak.
  15. Mencintai perannya : orang kaya biasanya mencintai perannya dalam kehidupan bisnis dan sosial.
  16. Mempercayai prinsip reltivitas uang : Orang2 kaya telah melatih dirinya untuk tidak terkejut melihat price list atu penawaran2 apapun. semuanya kembali pada apa yang bisa didapatkan dari pengeluaran tersebut.
  17. Memhami konsep : Time value of money” : nilai lebih untuk masa depan
  18. Tak ingin bersusah payah : Jangan salah orang yang tak ingin bersusah payah bukan berarti ia malas. Kalau dia berpikir dan terus berpikir untuk menemukan sistem dan cara bekerja yang efektif dan efisien untuk mendapatkan hasil yg lebih baik, maka mereka memiliki bakat untuk menjadi kaya.
  19. kreatif : merupakan bagian terpenting dri bakat menjadi kaya. Orang kaya selalu kreatif dalam menemukan cara2 baru dalam berbisnis.
  20. Menghargai gagasan yang beroroientasi pada tindakan : Orang kaya bisa memilih ide yang menarik yg hanya sebatas ide dan yang bisa menghasilkan uang.
  21. Open mind : Orang-orang berbakat kaya sangat yakin tak ada sesuatu yang tak mungkin terjadi. mereka terus bermimpidi dan yakin mimpinya suatu saat dapat terwujud.
  22. Mampu menilai karakter orang lain : Orang-orang kaya sellau memilih staf atau karyawan yg sesuai dengan karakter dirinya.
  23. Waspada terhadap pujian : pujian bisa membuat terlena dan lupa diri, orang kaya lebih terbuka menerima kritik.
  24. Terbuka menerima kritik : orang kaya telah berlatih untuk menerima kritik setajam apapun.
  25. Mampu memahami berbagai bntuk uang : bagi orng kaya pengertian uang sangatlah luas
  26. mampu menggunakan Sumber daya orng lain : orang kaya menggunakan waktu dan tenaga orng lain bahkan uang orng lain untuk memperkaya dirinya.
  27. Tak pernah merasa puas : ketidak puasan bukan dilihat dari banyaknya uang yang telah dimiliki, tetapi cara kerja dan cara 2 bisnis yg telah di sempurnakan.
  28. mampu mendeteksi kemana uang mengalir : mereka memahami kemana uang mengalir
  29. Memahami nilai guna yang tersembunyi : orang kaya memiliki sense yang tajam terhadap berbagai macam peluang bisnis.
  30. memikirkan hal terburuk, tetapi tidak takut karenanya : Orang kaya salalu mendahului pemikirannya dari hal yag terburuk.
  31. memiliki alasan kuat untuk setiap pengeluarannya
  32. Menciptakan uang, bukan mencari uang : orang berbakat kaya selalu berpikir saluran pipa kekayaan.
  33. Tahu persis bagaimana uangnya bekerja
  34. Fokus dan spesifik : mereka tidak mau kehilangan fokus pada wilayah dimana mereka memiliki kompetensi inti.
  35. Percaya bahwa uang tidak tumbuh dipohon : mereke berpikir uang dan kekayaan hanyalah konsekuensi dari gagasan dan tindakan anda.
  36. Tidak percaya ” abnormal Return ” : Tidak satupun instrumen investasi yg bebas resiko.
  37. Mampu membedakan lemak dan memangkas otot : Mereka hanya membuak lemaknya, yaitu sesuatu yang membuat bisnis menjadi tidak fleksibel, terlalu birokratis dan tidak responsif terhadap perubahan.
  38. Cerdas secara finansial dan numerik
  39. Lebih suka berbelanja secar tunai
  40. tidak pernah mau mengunakan kartu kredit apalagi minta kenaikan plafon kartu kredit
  41. Tidak bisa dirayu iklan konsumtif
  42. Menggunakan setiap aktivitas konsumsi sebagai sarana pembelajaran
  43. selalu berpegang pada azas uilitas dalam berkonsumsi
  44. Mencari daya ungkit : Orang-orang berbakat kaya selalu mencari daya ungkit untuk menaikan nilai aset
  45. Peka terhadap detail : Orang-orang berbakat kaya biasanya gampang memahami gambaran umum suatu persoalan.
  46. Menghargai waktu
  47. Mampu menghitung “opportunity cost ( biaya semu ) ” : muncul sebagai konekuensii logis ketika kita mengambil suatu pilihan dan mengorbankan pilihan lain, tetapi orang berbakat kaya mampu menghitung opprtunity cost sehingga mereka bisa menentukan secara tepat pilihannya yg disisuaikan dengan tujuan awal.
  48. Berani gagal
  49. Skeptis menghadapi semua proposal
  50. Disiplin terhadap anggaran
  51. Mampu membedakan Needs dan wants
  52. membiarkan pihak lawan menawar terlebih dahulu
  53. Bisa melihat potensi terpendam dari segsala sesuatu
  54. Menginvestasikan uang dan waktu secara aktif
  55. Tak suka menabung : Orang kaya tidak menabung dengan tujuan mengumpulkan ” sedikit2 demi sedikit lama2 menjadi bukit”. kalupun punya tabungan, mootifnya adalah penyimpanan saja, bukan untuk mendapatkan hasil. Mereka pasti menanamkan uangnya kedalam instrumen2 yang bisa memberi return secara cepat. Investasi tidak dikenai pajak, kecuali apabila investor menginginkan profit taking. namun, bunga tabungan selalu dipangkas pajak, tidak peduli apakah pemilik tabungan akan memakai uangnya atau tidak.
  56. memiliki kepekaan terhadap bunga majemuk
  57. mampu menghitung nilai nominal dari segala sesuatu
  58. Tidak pernah mencintai aset secara tidak rasional : orang2 kaya tidak pernah mencintai asetnya secara berlebihan, sehingga menaggappnya tidak bisa dinilai dengan uang.
  59. Tidak pernah mengeluhkan modal yang kecil
  60. Stabil secara emosional
  61. Bisa memahami kebutuhan dan keinginan orang lain
  62. Proporsional dalam mengambil resiko : orng kaya sellau mengukur resiko dan keuntungan, karena keduanya berbanding lurus.
  63. Punya nyali dan berani kehilangan uang
  64. bersikap obyektif dan rasional
  65. Memegang asas profesionalisme : Orang-orang kaya tidak mencampuraduk hubungan profesional dan pertemanan.
  66. memiliki kemampuan kordinasi
  67. Tidak takut utang
  68. mampu menjadi penilai aset yang handal
  69. memahami ritme dan timing
  70. Selalu tertarik pada cara kerja suatu alat atau sistem
  71. menghindari bekerja dengan penghasilan tetap
  72. menghindari utang budi
  73. jago menkomunikasikan gagasan bisnis
  74. Bekerja bukan berdasarkan hasil jangka pendek
  75. Mewaspadai kebiasaan buruk
  76. menyukai perubahan
  77. mempunyai sense terhadap keseimbangan uang dan barang
  78. mampu menemukan substansi :merka selalu merujuk pada poin pentingnya pada saat membeli sesuatu, sperti pada saan membeli bor misalnya, mereka membeli bor berorientasi pada tujuannya yakni untuk membuat lubang.
  79. berpikir dari berbagai sudut pandang
  80. respek terhadap orang2 sukses
  81. Lihai dalam permainan ego
  82. Berwatak simple dan praktis
  83. menganggap krisis sebagai peluang
  84. Mampu memahami kebutuhan orang lain merupakan salah satu kunci sukses bisnis
  85. Bisa berpikir seperti orang awam
  86. mempercayai kekuatan pikiran
  87. Memahami kegagalan dari sudut pandang lain dan merubahnya menjadi sesuatu pembelajaran yang dpt merubah mnjadi kemajuan usahanya
  88. Tidak mengenalkan belas kasihan
  89. mampu menghitung cepat
  90. Memiliki skala prioritas dalam pengeluaran
  91. Mampu mengenali pola : selalu berusaha memahami pola yang berlaku dan cara kerja segala sesuatu.
  92. Peka terhadap kualitas
  93. berorientasi pada ” value for money ” : setiap sen uang yang keluar harus memiliki alasan yang kuat.
  94. Mengerti kekuatan informasi
  95. bukan persentasenya, tapi nominalnya
  96. selalu mengikui perkembangan terbaru
  97. mencatat segala transaksi keuangan
  98. Mampu mengukur peluang dan probabilitas
  99. Membiarkan setiap transaksi berdiri sendiri.
sumber: William Tanuwidjadja

Tuesday, 27 November 2012

Dalam Bisnis, Apa yang Kita Bela..?

08:55

Apa yang Anda Bela? Anda melakukan bisnis sebenarnya hendak membela apa? Kelihatannya sebuah pertanyaan mudah. Namun jika Anda adalah pelaku usaha, saya yakin saat ini kening Anda langsung berkerut.
Berbeda dengan saat perjuangan kemerdekaan dulu. Seandainya kita sampaikan pertanyaan “apa yang Anda bela?” ke para pejuang kemerdekaan, jawaban mereka akan seragam: Kemerdekaan. Bahkan lebih tegas lagi, mereka menyatakan pilihan: “Merdeka atau Mati”. Makanya tidak heran, demikian dahsyat daya juang mereka. Karena jelas apa yang dibela.
Ternyata para pelaku usaha yang sudah sangat sukses di tingkat dunia juga memiliki sesuatu yang dibela. Sebuah jaringan Kedai Kopi yang memiliki ribuan Kedai di seluruh dunia, pernah suatu ketika menghadapi sebuah dilemma. Ketika Sang Pendiri Kedai tersebut memutuskan mundur dari jabatan puncak dan menyerahkan kepada professional, perusahaan kemudian tumbuh pesat. Dalam waktu 5 tahun, jumlah kedai naik tiga kali lipat menjadi sekitar 15 ribu Kedai di seluruh dunia. Namun, ternyata kemajuan dari segi jumlah Kedai dan omzet, perlahan diikuti dengan penurunan kunjungan pelanggan dan nilai saham perusahaan di bursa. Sang Pendiri segera mencari tahu penyebabnya, dan dia sampai pada sebuah kesimpulan bahwa upaya untuk tumbuh telah melupakan alasan mengapa dulu ia mendirikan Jaringan Kedai Kopi tersebut, yaitu: “Memberi inspirasi bagi jiwa manusia”. Inilah yang ingin dibela melalui usaha nya.
Sekilas tidak ada hubungan antara “memberi inspirasi” dengan bisnis Kopi. Namun ternyata inilah yang selama ini menjiwai seluruh aktivitas di Kedai-kedai yang ia bangun. Sehingga keseluruhan pengalaman minum Kopi tidak lagi sekedar transaksi jual-beli namun adalah pengalaman yang membangkitkan inspirasi bagi pelanggannya.
Sebuah perusahaan yang sangat berhasil dalam melakukan penjualan Sepatu melalui jaringan internet juga menyatakan bahwa mereka memiliki sesuatu untuk dibela. Jangan salah, meskipun “hanya” berjualan sepatu melalui internet, mereka berhasil membukukan penjualan hingga 1 Milyar Dollar AS per tahun. Dan ternyata alasan kehadiran mereka di dunia ini bukanlah untuk berjualan sepatu, tapi untuk “memberikan kebahagiaan” kepada pelanggannya. Mereka ingin saat pelanggan menerima pengiriman sepatu mereka adalah saat paling membahagiakan dan berkesan. Mereka ingin pelanggan mengalami “Wow” ketika membuka kiriman sepatu mereka. Sekilas tidak berhubungan langsung dengan produk yang mereka jual, namun inilah yang menjadi tenaga pendorong kesuksesan mereka. Membeli sepatu bukan lagi sekedar membayar dan menerima sepatu, namun menjadi pengalaman yang berkesan. Pengalaman ini yang ingin dibela.
Pendiri perusahaan-perusahaan yang sangat sukses tadi ketika ditanya “Apa yang Anda bela?” akan menjawab dengan sangat jelas dan gamblang. Tapi apakah hal ini penting untuk usaha yang tingkatnya usaha kecil dan menengah? Ya, kita juga harus menemukan “apa yang kita bela” jika ingin usaha kita menguntungkan dan berkesinambungan. Paling tidak ada tiga manfaat dengan menemukan dan mendefinisikan apa yang ingin Anda bela melalui bisnis.
Pertama, Menjadi Inspirasi Seluruh Aktivitas Usaha
Apa yang kita bela akan menjadi inspirasi bagi seluruh aktivitas organisasi usaha kita. Tidak hanya aktivitas penjualan yang langsung berhubungan dengan pelanggan, namun juga seluruh aktivitas, yang dimulai dengan bagaimana produk akan dibuat. Misalnya perusahaan yang membela “inovasi”, maka dalam menciptakan produk akan menjadikan inovasi sebagai “nyawa”. Mereka tidak akan menghasilkan produk yang biasa-biasa atau mengekor produk yang sudah ada, namun mereka berani menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, atau mendefinisikan kembali sesuatu yang sudah ada.
Tidak hanya dalam penciptaan produk. Di area lain dari organisasi usaha, maka inovasi akan menjadi tema, karena sudah menjadi sesuatu yang dibela bersama. Cara melakukan penjualan juga akan dilakukan dengan cara-cara baru dan setiap individu selalu berupaya menciptakan terobosan.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan Perawatan Tubuh terkemuka yang memiliki jaringan global, oleh Pendirinya ditetapkan sebagai kendaraan baginya untuk mengupayakan perubahan positif bagi lingkungan hidup dan sosial. Karena nilai ini sudah menjelma menjadi sesuatu yang dibela, maka dari pemilihan bahan, cara produksi, hingga penjualan selalu terinspirasi untuk mengedepankan kepedulian sosial dan lingkungan.
Kedua, Menjadi Merk yang Hidup dan Nyata
Sebuah merk dagang tidak sekedar nama. Namun citra yang melekat pada merek tersebut merupakan sebuah janji kepada pelanggannya. Sebuah merk tidak sekedar kata atau istilah, namun mewakili totalitas pengalaman dan nilai yang diharapkan akan diterima oleh pelanggan. Karenanya apa yang kita bela melalui usaha kita, akan melekat erat degan merk yang kita gunakan.
Mesin pencari yang paling banyak digunakan di internet saat ini, memiliki merk kuat yang mudah diingat orang. Dan ini diperkokoh dengan alasan kehadiran mereka di dunia yang mereka deklarasikan sebagai: mengorganisasi informasi dunia supaya mudah diakses secara universal. Dan mereka harus membuktikan janji tersebut menjadi pengalaman nyata yang dialami pengguna jasa mereka.
Hari ini apabila kita menggunakan mesin pencari tersebut di internet, maka kita akan mengalami kemudahan struktur informasi yang disajikan, kemudahan akses dari berbagai perangkat, dengan layar yang sangat sederhana. Apa yang mereka bela, mewujud dalam sebuah merk yang secara nyata dan hidup dapat kita alami.
Ketiga, Sebagai Perekat Pemangku Kepentingan.
Sebuah bisnis pada dasarnya memperjuangkan kepentingan para pemangku kepentingan: Pemilik usaha, Pelanggan, Karyawan, Mitra usaha dan Masyarakat. Dengan menyatakan “apa yang kita bela” maka para pemangku kepentingan dengan jelas dapat menentukan sikap, apakah apa yang ingin dibela oleh usaha tersebut sesuai dengan nilai yang mereka anut atau tidak. Jika sesuai, atau bahkan ternyata pemangku kepentingan membela hal yang sama, maka akan tercipta daya rekat yang luar biasa kokoh.
Ketika salah satu Negara tetangga kita berkomitmen untuk menguasai industri otomotif dalam negeri mereka dengan produk lokal, maka sangat jelas apa yang ingin mereka bela. Yaitu kemandirian dalam menciptakan produk otomotif. Pemerintah, masyarakat, pelanggan, supplier, karyawan, agen penjualan, dan pemilik perusahaan membela hal yang sama. Sehingga jatuh bangun proses membangun kemandirian tersebut dijalani sama-sama tanpa menggoyahkan tujuan akhir yang ingin dibela. Dan hari ini mereka berhasil menjadi produsen dan eksportir kendaraan yang mereka bangun.
Perusahaan yang membela sekedar profit, paling jauh hanya akan mendapat profit. Yang terbukti sangat rentan. Hari ini bisa besar, besok bisa kurang, lain waktu bahkan bisa minus. Namun, apabila usaha Anda memiliki sesuatu yang lebih besar untuk dibela, maka naik turun dalam proses membangun usaha adalah sesuatu yang tidak akan membuat gentar. Karena hanyalah bagian kecil dari perjuangan besar untuk mewujudkan yang kita bela.
Sumber: Pengusahamuslim.com
Oleh:  Fauzi Rachmanto, Beliau Aktif sebagai  Wirausahawan, Penulis, Inspirator Bisnis, Leadership Coach, “Greatness Activator”, berdomisili di Bandung. Alamat situs http://fauzirachmanto.com/

Saturday, 29 September 2012

Download eBook 7 Keajaiban Rezeki

23:58
Ya ini sekedar sharing saja buat teman-teman yang membutuhkan tambahan multivitamin motivasi agar semakin menggelora niatan untuk jadi orang yang lebih berguna bagi dri sendiri, keluarga, dan sesamanya, dengan banyak membuat terobosan yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Disini di paparkan sang penulis cara pandang yang kebanyakan orang tidak pakai untuk memepercepat datangnya rizki. Cara pikir otak kanan yang oleh si pengarang dijabarkan ternyata tak sesulit yang kita bayangkan untuk di praktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Buku yang tulis oleh Ippho Santosa dan di terbitkan oleh PT. Alex Media Kompetindo. kategori bisnis & motifasi, kini bisa kita dapatkan dalam bentuk eBook (file PDF). Buku ini berisikan 7 point penting yang berkaitan dengan rezeki di antaranya :
  • Sidik Jari Kemenangan.
  • Sepasang Bidadari.
  • Golongan Kanan.
  • Simpul Perdagangan.
  • Perisai Langit.
  • Pembeda Abadi.
  • Pelangi Ikhtiar.
Okey langsung saja... anda bisa membaca dan mendownload eBook-nya disini.
Demikian semoga bermanfaat bagi semua.

Wednesday, 2 May 2012

Gunakan Blue Ocean Strategy untuk Mengatasi Persaingan Usaha

21:22
Menghadapi kondisi persaingan pasar yang semakin ketat, tentunya menuntut para pelaku usaha untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyusun strategi pemasaran. Bahkan melihat kondisi pasar  yang semakin hari kian ramai, sekarang ini tidak hanya strategi pemasaran “standar” saja yang dibutuhkan para pelaku usaha untuk memenangkan persaingan pasar. Namun, mereka mulai dituntut agar lebih kreatif dan berani keluar dari zona nyaman untuk membuat sebuah gebrakan baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya oleh para kompetitor. Contohnya saja dengan menerapkan strategi pemasaran Blue Ocean untuk membidik ceruk pasar yang masih belum tergarap oleh para pesaing.

Yang dimaksudkan dengan Blue Ocean Strategy adalah sebuah strategi bisnis yang dipaparkan oleh W. Chan Kim dan Renee Mauborgne, dimana mereka mengajarkan para pelaku usaha untuk bisa menaklukan ketatnya persaingan dengan menciptakan pangsa pasar baru yang belum pernah dilirik maupun tersentuh oleh para kompetitornya. Melalui strategi ini, Chan Kim dan Renee Mauborgne menghimbau para pengusaha untuk menghindari ceruk pasar yang sudah jenuh dengan persaingan. Daripada bersaing di ceruk pasar yang sudah sangat padat, lebih baik menciptakan sebuah ruang baru yang lebih potensial dan berusaha memberikan nilai tambah pada ceruk pasar yang selama ini belum dilirik para pesaing.

Lalu, bagaimana caranya menerapkan blue ocean strategy untuk mengatasi persaingan? Berikut ini adalah beberapa tips pemasaran ala blue ocean strategy yang bisa Anda terapkan untuk memenangkan persaingan pasar.

1.    Fokus pada ceruk pasar yang diminaticafe unik 200x109 Menerapkan Blue Ocean Strategy Untuk Mengatasi Persaingan
Langkah pertama yang bisa Anda lakukan yaitu menciptakan ceruk pasar baru yang tidak pernah dilirik kompetitor lain, misalnya saja dengan mengangkat hobi atau passion yang Anda miliki menjadi sebuah peluang yang cukup potensial.

Strategi bisnis seperti inilah yang sukses mengantarkan Bobby Handojo Gunawan dalam mengembangkan bisnis café & resto yang Ia beri nama Dream Cars Resto And Café, di Surabaya. Memanfaatkan hobi otomotif yang Ia miliki, Bobby mencoba menghadirkan sebuah konsep restoran & café yang unik yakni menggunakan koleksi mobil tuanya sebagai tempat makan bagi para pelanggannya. Keunikan konsep bisnis yang Ia usung, ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen, sehingga tanpa dukungan strategi promosi yang begitu ngoyo, bisnis café & resto milik Bobby selalu menjadi buah bibir para pecinta kuliner. Sehingga tidak heran bila melalui strategi pemasaran word of mouth (dari mulut ke mulut), sekarang ini Dream Cars Resto And Café selalu ramai dikunjungi konsumen baik dari dalam kota maupun luar Surabaya.

2.    Menciptakan sebuah pembeda
Blue ocean strategy pada dasarnya merupakan sebuah cara yang bisa dilakukan para pengusaha untuk menaklukan pesaingnya dengan menciptakan sebuah produk yang inovatif. Biasanya, produk yang ditawarkan memiliki keunikan tersendiri dan menawarkan nilai tambah yang belum pernah dimiliki kompetitor lain.

Contohnya saja seperti Rachman S Said, Alumni IPB Fakultas Teknologi Hasil Pertanian ini berhasil menciptakan mie inovatif dengan memanfaatkan bahan baku labu sebagai pengganti tepung terigu. Mengusung Bumie (labu mie) sebagai brand produknya, Rachman menciptakan sebuah gebrakan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh produsen mie di Indonesia. Keunggulan inilah yang membuat perkembangan bisnis Bumie bisa melaju dengan pesat, tidak heran bila permintaan konsumen terus meningkat dan kapasitas produksinya mulai bertambah menjadi 10.000–20.000 bungkus labu mie per bulan.

3.    Memiliki slogan yang unik dan berkesan di hati para pelanggan.
Keberadaan slogan bukan hanya untuk membuat tag line pada sebuah iklan, namun juga memiliki tujuan jangka panjang agar slogan tersebut bisa menciptakan kesan khusus di hati para pelanggan dan dapat tertanam cukup kuat dalam benak para konsumen. Strategi pemasaran ini sangatlah penting untuk memperkuat brand produk yang Anda usung, bahkan tidak hanya para pemula saja yang wajib menjalankan strategi ini untuk memperkenalkan brand produknya. Namun, perusahaan-perusahaan besar seperti McDonald pun sampai hari ini masih terus menanamkan slogan mereka kepada konsumen meskipun mereka telah berhasil menguasai pasar mancanegara. Dengan slogan andalannya I’m lovin’ it, McDonald berusaha menanamkan kecintaan para konsumen terhadap produk maupun perusahaan yang mereka jalankan. Sehingga wajar adanya, bila sekarang ini para konsumen di berbagai dunia memilih McDonald sebagai salah satu tempat makan atau restoran cepat saji yang sangat mereka gemari.

Dengan menerapkan blue ocean strategy dalam menjalankan bisnisnya, diharapkan para pengusaha maupun pelaku pasar bisa menciptakan sebuah ruang baru yang cukup potensial dan mendatangkan keuntungan yang cukup besar setiap bulannya. Mulailah dari yang kecil, mulailah dari yang mudah, mulailah dari sekarang. Salam sukses.

Saturday, 28 April 2012

Merencanakan Ekonomi cara Robert T Kiyosaki

Merencanakan Ekonomi cara Robert T Kiyosaki

06:13
Pada tahun 1985, Robert T. Kiyosaki dan Kim, istrinya, tidak mempunyai tempat tinggal. Mereka tak punya pekerjaan dan hanya punya sedikit sisa tabungan. Kartu kredit mereka sudah melampaui batas pengambilan, dan mereka hidup di dalam sebuah Toyota cokelat usang dengan kursi reclining yang berfungsi sebagai tempat tidur. Kadang-kadang mereka melakukan pekerjaan serabutan dan mendapat beberapa dolar di sana sini. Pada saat itu mereka diliputi keraguan yang dalam. Gagasan sebuah pekerjaan yang aman dan menjamin dengan slip gaji bulanan terasa sangat menggoda. Tapi karena keamanan kerja bukanlah yang mereka cari, mereka terus berjuang. Hidup dari hari ke hari, di tepi jurang kehancuran finansial.

Tahun itu, 1985, adalah tahun terburuk dalam hidup mereka, sekaligus yang terpanjang. Siapa pun yang mengatakan bahwa uang tidak penting sudah jelas tak pernah merasakan tidak punya uang dalam waktu lama. Mereka tahu, mereka selalu bisa mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi yang aman dan menjamin. Mereka sama-sama lulusan perguruan tinggi dengan ketrampilan bekerja yang bagus dan etos kerja yang kuat. Tapi mereka tidak mencari keamanan pekerjaan. Mereka mencari kebebasan finansial.

Pada tahun 1989 mereka sudah menjadi jutawan. Meskipun tampak berhasil secara finansial di mata orang-orang, saat itu mereka tetap belum mencapai impian mereka. Mereka belum meraih kebebasan finansial yang sejati. Masih diperlukan waktu sampai tahun 1994. Saat itulah mereka sudah tidak perlu lagi bekerja seumur hidup mereka. Mereka berdua sudah memperoleh kebebasan finansial. Robert berumur 47, Kim 37.

Sering sekali kita mendengar orang berkata, “Dibutuhkan uang untuk menghasilkan uang.”

Robert tidak sependapat. Dari kondisi tuna wisma di tahun 1985 hingga menjadi jutawan di tahun 1989 dan kemudian mencapai kebebasan finansial di tahun 1994, mereka tidak membutuhkan uang. Mereka tidak mempunyai uang ketika memulainya, bahkan mereka memiliki utang.

Juga tidak dibutuhkan pendidikan formal yang tinggi. Robert punya ijazah perguruan tinggi, dan sejujurnya ia mengatakan bahwa mencapai kebebasan finansial tidak ada hubungannya dengan apa yang dipelajari di perguruan tinggi. Banyak orang sukses meninggalkan bangku sekolah tanpa memperoleh ijazah perguruan tinggi. Orang-orang seperti Thomas Edison, pendiri General Electric; Henry Ford, pendiri Ford Motor Co.; Bill Gates, pendiri Microsoft; Ted Turner, pendiri CNN; Michael Dell, pendiri Dell Computers; Steve Jobs, pendiri Apple Computer; dan Ralp Lauren, pendiri Polo. Pendidikan perguruan tinggi penting untuk profesi tradisional, tapi tidak bagi cara orang-orang ini mendapatkan kekayaan besar. Mereka mengembangkan bisnis mereka sendiri yang berhasil. Dan itulah yang dulu diupayakan Robert dan Kim dengan susah payah.

Jadi, apa yang dibutuhkan?

Mind Your Business with Financial Intelligence

Apakah Anda selama ini bekerja keras dan membuat orang lain kaya? Sejak kecil kebanyakan orang diprogram untuk mengurus bisnis orang lain dan membuat orang lain kaya. Hal ini diawali tanpa sadar dengan kata-kata nasihat sebagai berikut:

1.“Kau harus bersekolah dan mendapat nilai bagus supaya bisa mempunyai pekerjaan yang aman dan menjamin dengan gaji tinggi serta tunjangan yang bagus.”
2.“Kau harus bekerja keras supaya bisa membeli rumah impianmu, karena rumahmu adalah aset dan investasimu yang paling berharga.”
3. “Hipotek menguntungkan kita karena pemerintah memberikan pemotongan pajak untuk pembayaran bunganya.”
4.“Beli sekarang, bayar belakangan,” atau “Uang muka kecil, angsuran bulanan ringan,” atau “Silakan masuk dan menabung.”

Orang yang begitu saja mengikuti kata-kata nasihat itu sering menjadi:

1.Pegawai, membuat atasan dan pemilik perusahaan kaya.
2. Debitor, membuat bank dan kreditor kaya.
3. Pembayar pajak, membuat pemerintah kaya.
4. Konsumen, membuat banyak bisnis lain kaya.

Bukannya mencari jalur cepat finansial mereka sendiri, mereka membantu orang lain menemukan jalur cepat finansial mereka. Bukannya mengurus bisnis mereka sendiri, mereka bekerja keras seumur hidup mengurus bisnis orang lain.

CASHFLOW Quadrant

Menurut Robert Kiyosaki dalam bukunya “CASHFLOW Quadrant”, ada empat kuadran yang mungkin menjadi sumber penghasilan seseorang.
Diagram ini adalah CASHFLOW Quadrant.

Huruf dalam masing-masing kuadran mewakili:

E untuk employee (pegawai)
S untuk self-employed (pekerja lepas)
B untuk business owner (pemilik usaha)
I untuk investor (penanam modal)

CASHFLOW Quadrant mewakili berbagai metode yang berlainan untuk mendapatkan uang atau penghasilan. Sebagai contoh, seorang “E” mendapat uang dengan bekerja untuk orang lain atau perusahaan. Orang-orang “S” mendapat uang dengan bekerja untuk diri sendiri. Seorang “B” memiliki usaha yang menghasilkan uang, dan “I” mendapatkan uangnya dari berbagai investasi mereka – dengan kata lain, uang menghasilkan uang yang lebih banyak.

Seorang “E” (pegawai) bisa merupakan presiden direktur perusahaan atau tukang sapu perusahaan. Yang terpenting bukanlah apa yang mereka lakukan, tapi perjanjian mengikat yang mereka miliki dengan orang atau organisasi yang mempekerjakan mereka.

Dalam kelompok “S” (pekerja lepas) kita menemukan “profesional” berpendidikan tinggi yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di bangku sekolah, seperti misalnya dokter, pengacara, dan akuntan. Juga dalam kelompok ini terdapat orang-orang yang mengambil jalur pendidikan di luar, atau di samping, aliran tradisional. Kelompok ini meliputi wiraniaga dan pemilik bisnis kecil seperti pemilik toko eceran, pemilik restoran, kontraktor, konsultan, ahli terapi, agen perjalanan, montir mobil, tukang ledeng, tukang kayu, pengkhotbah, tukang listrik, penata rambut, dan artis.

Seorang “B” nyaris merupakan lawan dari “S.” Mereka senang mengitari diri mereka dengan orang-orang pandai dari keempat kategori. Tidak seperti “S” yang tak suka mendelegasikan pekerjaan (karena menganggap tidak ada yang bisa melakukannya dengan lebih baik), seorang “B” sejati suka mendelegasikan pekerjaan.

Perbedaan utama antara “S” dan “B” adalah, seorang “S” memiliki sebuah pekerjaan sedangkan seorang “B” memiliki sebuah sistem dan kemudian menyewa orang-orang yang berkompeten untuk menjalankan sistem itu. Atau dengan cara lain bisa dikatakan, dalam banyak kasus “S” adalah sistemnya. Itu sebabnya mereka tidak bisa pergi meninggalkan bisnisnya untuk waktu yang lama.

Sebaliknya, mereka yang merupakan “B” sejati bisa meninggalkan usaha mereka selama satu tahun atau lebih, dan pada saat kembali menemukan bisnis mereka lebih menguntungkan serta berjalan lebih baik dibanding ketika mereka tinggalkan. Dalam bisnis jenis “S” murni, jika sang “S” pergi selama satu tahun atau lebih, kemungkinan besar takkan ada bisnis yang tersisa ketika mereka kembali.

Pemilik bisnis “B” bisa berlibur selamanya karena mereka memiliki sebuah sistem, bukan sebuah pekerjaan. Jika “B” sedang berlibur, uangnya masih mengalir masuk. Sangat banyak orang yang bisa membuat burger lebih enak dari McDonald’s, tapi hanya McDonald’s yang mempunyai sistem yang telah menyajikan miliaran burger. Bill Gates dari Microsoft tidak membuat produk hebat. Ia membeli produk orang lain dan membangun sistem global yang canggih di sekitarnya.

“I” (investor) membuat uang dengan uang. Mereka tak perlu bekerja karena uang mereka bekerja untuk mereka. Kuadran “I” adalah arena bermain golongan kaya. Di kuadran manapun orang menghasilkan uang, jika berharap suatu hari akan kaya, mereka pada akhirnya harus memasuki kuadran “I”. Di dalam kuadran “I” inilah uang diubah menjadi kekayaan.

Itulah CASHFLOW Quadrant, yang sebenarnya hanya memaparkan perbedaan tentang cara memproleh penghasilan, entah itu sebagai “E” (pegawai), “S” (pekerja lepas), “B” (pemilik usaha), atau “I” (penanam modal).

Perbedaan pokok keempat kuadran itu terangkum di bawah ini:

E : Anda adalah pegawai yang bekerja untuk orang lain atau perusahaan.

S : Anda memiliki pekerjaan dan Anda terikat dengan pekerjaan itu.

B : Anda memiliki sistem dan orang lain bekerja untuk Anda.

I : Uang bekerja untuk Anda.
MEMILIH KUADRAN ANDA

Sebagian besar dari kita pernah mendengar bahwa rahasia memperoleh kekayaan besar adalah:

1. OPT – Other People’s Time (Waktu Orang Lain).
2.OPM – Other People’s Money (Uang Orang Lain).

OPT dan OPM ditemukan di sisi kanan Quadrant. Kebanyakan orang yang bekerja di sisi kiri Quadrant adalah OP (Other People) yang waktu dan uangnya dipergunakan oleh mereka yang berada di sisi kanan Quadrant. Di sisi kiri, para “E” dan “S” mungkin memiliki keamanan pekerjaan. Tapi, hanya dengan menjadi “B” atau “I” di sisi kanan Quadrant-lah Anda akan meraih kemanan dan kemudian kebebasan finansial.


Dengan memilih bisnis jenis “B”, bukannya bisnis jenis “S”, Anda akan memperoleh keuntungan jangka panjang menggunakan “waktu orang lain”. Salah satu kelemahan menjadi “S” yang berhasil adalah: keberhasilan itu berarti harus bekerja lebih keras. Dengan kata lain, pekerjaan yang bagus menghasilkan kerja yang lebih keras dan jam kerja yang lebih panjang.

Dalam merancang bisnis di sisi kanan Quadrant, sukses berarti meningkatkan sistem dan melibatkan lebih banyak orang. Dengan kata lain, kita bekerja lebih sedikit, menghasilkan uang lebih banyak, dan menikmati lebih banyak waktu luang.

Di seluruh Quadrant dibutuhkan kecerdasan finansial. Jika ingin beroperasi di sisi kanan Quadrant, yaitu sisi “B” dan “I”, Anda harus lebih pandai daripada jika memilih diam di sisi kiri Quadrant sebagai “E” dan “S”. Untuk menjadi “B” atau “I”, Anda harus bisa mengendalikan ke arah mana cash flow Anda mengalir.

KEKAYAAN DAN CASH FLOW

Robert Kiyosaki mendefinisikan kekayaan sebagai: “Jumlah hari di mana Anda bisa bertahan tanpa bekerja secara fisik (atau tanpa siapa pun dalam keluarga Anda bekerja secara fisik) dan tetap mempertahankan tingkat kehidupan Anda.”

Sebagai contoh: Jika pengeluaran Anda adalah Rp. 1.000.000,- per bulan, dan jika Anda memiliki tabungan sebesar Rp. 3.000.000,- maka kekayaan Anda adalah sekitar 3 bulan atau 90 hari. Kekayaan diukur dalam satuan waktu, bukan uang.

Jadi, yang penting bukanlah terutama tentang berapa banyak uang yang Anda hasilkan, tapi lebih mengenai berapa banyak uang yang Anda simpan, seberapa keras uang itu bekerja untuk Anda, dan berapa banyak generasi yang bisa Anda hidupi dengan uang itu. Itulah yang disebut kecerdasan finansial.

Beberapa tahun lalu, sebuah artikel menuliskan bahwa sebagian besar orang kaya menerima 70% penghasilan mereka dari investasi, atau dari kuadran “I”, dan kurang dari 30%-nya dari gaji, atau dari kuadran “E”. Dan jika bekerja sebagai “E”, maka kemungkinan besar mereka adalah pegawai perusahaan mereka sendiri.

Bagi kebanyakan orang lain, yaitu golongan miskin dan kelas menengah, setidaknya 80% penghasilan mereka berasal dari gaji di kuadran “E” atau “S” dan kurang dari 20% berasal dari investasi, atau dari kuadran “I”.

Banyak orang percaya bahwa hanya dengan menghasilkan lebih banyak uang, masalah finansial mereka akan selesai. Tapi, dalam banyak kasus, hal ini malah hanya menimbulkan masalah keuangan yang lebih besar. Alasan utama orang mempunyai masalah keuangan adalah karena mereka tidak pernah mendapat pelajaran tentang pengelolaan cash flow. Tanpa latihan ini mereka akhirnya mendapat masalah keuangan, lalu mereka bekerja lebih keras dengan keyakinan bahwa lebih banyak uang akan memecahkan masalah mereka.

Jadi, jika Anda ingin mengurus bisnis Anda sendiri, langkah berikut sebagai CEO bisnis hidup Anda adalah mengendalikan cash flow Anda. Jika Anda tidak melakukannya, menghasilkan lebih banyak uang takkan membuat Anda bertambah kaya… bahkan, lebih banyak uang membuat sebagian besar orang semakin miskin karena mereka sering pergi membelanjakannya dan semakin dalam terbenam utang setiap kali mendapat kenaikan gaji.

Seperti dinyatakan oleh Robert Kiyosaki dalam bukunya “Rich Dad Poor Dad,” ada tiga pola cash flow dasar. Satu untuk kelompok miskin, satu untuk kelompok kelas menengah, dan satu untuk kelompok kaya. Inilah pola cash flow untuk kelompok miskin:


Dan ini adalah pola cash flow kelas menengah:
Pola cash flow ini dianggap “normal” dan “inteligent” oleh masyarakat kita. Karena orang-orang yang mempunyai pola ini kemungkinan memiliki pekerjaan dengan bayaran tinggi, rumah bagus, mobil, dan kartu kredit.

Inilah yang disebut “impian kelas pekerja.”

Mempunyai pola cash flow kelas menengah memang normal di Era Industri, tapi hal itu bisa berbahaya di Era Informasi. Seiring dengan berkembangnya kecerdasan finansial, banyak orang yang mulai menyadari kesulitan finansial yang sedang mereka alami, meskipun masyarakat menganggap mereka “normal secara finansial.”

Ketika pemahaman itu timbul, Anda harus mulai berpikir seperti orang kaya dan bukannya seperti pekerja keras kelas menengah. Dengan mengubah pola berpikir Anda seperti pola berpikir kelompok kaya, Anda akan mulai mencari pola cash flow seperti ini:nilah pola pemikiran mental yang diajarkan oleh Robert Kiyosaki.

Ia tidak menyarankan Anda menjadi kecanduan pekerjaan dengan bayaran tinggi, tapi agar Anda mengembangkan pola pemikiran yang hanya terpusat pada aset dan pemasukan dalam bentuk capital gain, deviden, pemasukan uang sewa, pemasukan residual bisnis, dan royalti atau passive income.

Bagi Anda yang ingin berhasil di Era Informasi, semakin cepat mulai mengembangkan kecerdasan finansial serta emosional untuk berpikir dalam pola ini, semakin cepat Anda akan merasa lebih aman secara finansial dan menemukan kebebasan finansial. Dalam dunia di mana terdapat semakin sedikit keamanan pekerjaan, pola cash flow ini terasa lebih masuk akal. Dan untuk mencapai pola ini Anda perlu melihat dunia dari sisi “B” dan “I”, tidak hanya dari kuadran “E” dan “S” saja.

Di Era Informasi, gagasan kerja keras tidak mempunya arti yang sama dengan Era Agraria dan Era Industri. Di Era Informasi, orang yang bekerja fisik paling keras akan dibayar paling sedikit. Jadi, ungkapan “pakai otak, jangan pakai otot” maksudnya bukan memakai otak di kuadran “E” dan “S”. Yang dimaksud adalah memakai otak di kuadran “B” dan “I”. Itulah pola berpikir Era Informasi, yang membuat kecerdasan finansial dan emosional sangat penting saat ini seperti halnya di masa depan.

Selanjutnya...... BERSAMBUNG......

Sunday, 22 April 2012

Dodi Chandra, Niat jadi Tentara malah Jadi Pengusaha Distro

16:13
Awalnya, tidak pernah terpikir oleh Dodi Chandra bakal menjadi pengusaha distro di Pariaman, Sumatra Barat. Kedatangannya ke Bandung, Jawa Barat kala itu ingin mewujudkan mimpi menjadi tentara Angkatan Darat. Ternyata begitu sampai di Bandung, impiannya berubah. Ia beralih menjadi pengusaha distro. Hal apa yang mengubah mimpinya?

Atmosphere Distro House, sebuah toko pakaian remaja yang terletak di Jalan Sudirman No 47 Pariaman menjadi trend setter di Kota Pariaman. Distro ini pun ditata mengikuti selera remaja dengan produk-produk yang lagi booming terpajang di etalase.

Melihat gaulnya, toko ini tentu tak seorang pun menyangka awalnya si pemilik toko, Dodi Chandra bermimpi menjadi seorang TNI. Maka tahun 2004, usai menyelesaikan pendidikan sekolah menengah, Dodi menuju Bandung mengikuti serangkaian tes Ketentaraan.

Namun begitu sampai di Bandung, justru semangat untuk menjadi TNI menguap. Melihat banyaknya distro di Kota Kembang itu, ia pun bermimpi menjadi pengusaha distro. Tentu saja hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Modal, jelas tak punya.

Mengharapkan ayah, tidak mungkin, karena ayahnya hanya buruh tani. Keinginan tersebut ia pendam sendiri, namun ia berusaha merintis impiannya. Kebetulan, selama di Bandung ia menumpang di rumah kakaknya yang juga punya toko pakaian.

Ia meminta kepada sang kakak, agar diizinkan membantu menjaga toko. Jadilah selama dua tahun ia membantu kakaknya menjaga toko. Disitulah sedikit banyaknya ia transfer ilmu berdagang dan membangun jaringan dari produsen pakaian.

Awal 2007, ia mulai mencoba hidup Mandiri dan hengkang dari rumah sang kakak. Tentu ini tidak mudah, karena ia harus mencari penghasilan sendiri.

”Saat itu hidup saya benar-benar sulit, karena tidak kunjung dapat pekerjaan, tabungan pun habis untuk biaya makan sehari-hari. Hingga saya putuskan bekerja sebagai pengorder pakaian dari produsen kepada konsumen. Modalnya hanya modal kepercayaan. Saya ambil barang dari produsen kemudian tawarkan ke toko-toko di Bandung. Alhamdulillah, kemudian terkumpul uang Rp 7 juta,” ujarnya seperti dilansir Padang Ekspres.

Modal inilah yang ia gunakan untuk memulai usaha. Ia pulang ke Pariaman mencari toko yang cocok untuk usaha distro. Akhirnya, ia menemukan toko dengan ukuran 3×4 di pusat kota Pariaman. Harga sewanya, Rp4,5 juta, sisa uang ia belikan etalase dan perangkat kebutuhan distro.

Sedangkan pakaian dan celana untuk distro, hanya bermodalkan kepercayaan teman lamanya di Bandung. Sang teman memberi kepercayaan menitipkan barangnya ke Dodi. Begitu terjual, baru ia setor kepada temannya tersebut. Naluri bisnisnya tidak meleset, distronya berkembang pesat. Ia selalu menampilkan model pakaian dan celana serta aksesories terbaru di Bandung.

Sistem one stop service pun ia terapkan semua kebutuhan remaja laki-laki dan perempuan tersedia di tokonya. Sehingga tokonya menjadi trendsetter di kalangan remaja Kota Pariaman.

Alhasil omzet pun meningkat dari Rp 300 ribu perhari menjadi Rp1,5 juta per hari. Bahkan saat Lebaran, ia berhasil membukukan omzet hingga Rp 250 juta, fantastis. Meski demikian, ia belum puas, saat ini ia ingin mengembangkan sayap, buka cabang di Lubukalung. ”Prinsip saya di mana ada kemauan di situ ada jalan,” tukasnya.

Sumber : disini

Saturday, 18 February 2012

Banyak Idea Bisnis Berasal dari Sekedar Hobi

16:24
Ide bisnis bisa berasal dari hobi. Apa hobi Anda? Segera terapkan dan kembangkan ke dalam dunia entrepreneurship untuk menambah pundi-pundi penghasilan.

Bisnis yang berbasis hobi memberi banyak keunggulan bagi entrepreneur. Satu di antaranya memberi kepuasan tersendiri saat mengelolanya sehingga pelaku usaha senantiasa bersemangat dalam menekuninya walau kendala menghadang sekalipun.

Nah, berikut ini adalah beberapa ide bisnis berbasis hobi berbiaya relatif murah yang bisa Anda jadikan peluang untuk mendatangkan penghasilan.

Menjual Kue
Bila Anda hobi memakan dan membuat kue, salurkan hobi itu menjadi peluang usaha yang bisa mendatangkan penghasilan. Usaha ini bisa dikelola dari rumah dengan biaya yang relatif rendah. Anda bisa berperan sebagai pemasok atau supplier terlebih dahulu serta mempromosikannya melalui toko online di awal-awal bisnis dan bila grafik pertumbuhan bisnisnya telah meroket, Anda bisa membuka tokooffline. Manfaatkan jejaring sosial untuk mempromosikan produk tersebut.

Fotografi
Hobi memotret layak disalurkan menjadi peluang usaha. Sebagai permulaan, Anda bisa membuka studio mini di garasi atau teras rumah. Beli perlengkapan pemotretan yang terjangkau sesuai budget dan lakukan promosi bisnis. Sembari mengelola usaha studio mini di rumah, Anda juga bisa menawarkan jasa untuk berbagai event yang membutuhkan kepiawaian memotret Anda seperti pernikahan, ulang tahun, event korporasi dan ajang-ajang lainnya. Seiring bisnis berjalan, asah kemampuan video shooting Anda untuk melengkapi produk jasa yang bisa ditawarkan kepada konsumen.

Ada baiknya membuat webiste perusahaan untuk memperkenalkan bisnis Anda kepada khalayak. Bila memiliki kekhususan bidang dalam memotret, misalnya hobi memotret pertandingan olahraga atau memotret interior rumah dan sebagainya, Anda bisa memeroleh pundi-pundi uang dengan menjual hasil karya tersebut di jagat maya.

Game
Hobi bermain game tak hanya bisa meredakan kepenatan tapi juga bisa mendatangkan uang. Ciptakan aplikasi permainan, baik berbasis ponsel ataupun komputer, yang mampu menarik minat khalayak. Modal yang dibutuhkan untuk usaha ini relatif rendah dan bisa dikelola dari rumah sebagai pekerjaan sambilan untuk awal mulanya.

Untuk memperluas jaringan dan membuka cakrawala mengenai game yang up-to-date, bergabunglah dengan komunitas-komunitas pecinta game. Bila memungkinkan jual karya kreatif Anda kepada sejumlah vendor potensial.

Menjahit
Kehadiran butik online di jagat maya seakan tak terhitung. Pelakunyapun beragam, mulai dari kalangan remaja, umum hingga selebriti. Bila Anda memiliki hobi di bidang tata busana, salurkan hobi tersebut dengan merancang serta menciptakan busana trendi yang disukai konsumen. Sebagai permulaan, pasarkan produk ke orang-orang terdekat dan ciptakan sistem pemasaran dari-mulut-ke-mulut yang efektif serta pemasaran online yang efisien. Ikuti selalu perkembangan mode yang paling mutakhir untuk mengembangkan produk Anda.

Ini hanya sebagian kecil ide bisnis berbiaya murah yang bisa dibidik sebagai peluang usaha. Masih banyak lagi ide bisnis berbasis hobi yang layak dikelola sebagai usaha, hobi Anda mungkin salah satu di antaranya. Selamat berbisnis! (*/dari berbagai sumber)

Labels

Labels

Labels

Copyright © Blog'e Aji Bintara. All rights reserved. Template by CB Blogger