Iklan
Showing posts with label Financial. Show all posts
Showing posts with label Financial. Show all posts

Saturday, 11 June 2016

Ini adalah Test untuk mengetahui apakah Kita sudah terjerat Hutang

04:48
Tawaran kredit sekarang ini boleh dibilang datang bertubi-tubi. Tidak hanya ditawarkan langsung oleh bank, tawaran yang datang dari SMS juga tidak kalah gencar. Tergiur? Boleh saja. Masalahnya, apa benar kita butuh dana segar seperti ini?
Perencana keuangan, Aidil Akbar, dalam blognya mengungkap jurus untuk menghadapi tawaran kredit macam ini. Dia pun mengutip pernyataan Dan Benson, seorang perencana keuangan dari Amerika Serikat dalam bukunya yang berjudul “12 Stupid Mistake People Make With Their Money” yang memberikan panduan,  apakah kita sudah cukup atau berlebih atau bahkan kurang dalam memiliki kartu kredit atau dengan kata lain terperangkap utang.
Di dalam bukunya terdapat tes yang bisa kita lakukan untuk menjawab tujuh buah pertanyaan yang dapat mengetahui apakah kita sudah terperangkap utang. Coba cek pertanyaan berikut:

Apakah kita mengalami defisit alur kas setiap bulannya?Defisit alur kas menunjukkan bahwa pengeluaran kita jauh lebih besar dibandingkan penghasilan kita yang artinya kita sebenarnya secara financial belum sanggup untuk membeli aset baru.

Apakah utang (konsumtif) melebihi dari lima persen penghasilan per bulannya?Kelebihan utang konsumtif menunjukkan bahwa kita kurang berhati-hati dalam membelanjakan dana kita sehingga barang-barang yang kita beli sebenarnya belum perlu atau tidak perlu sama sekali.

Apakah selalu membayar tagihan kartu kredit dengan jumlah pembayaran minimal ?
Hal ini menunjukakn bahwa kita mulai memiliki masalah dalam mengelola utang sehingga karena arus kas kita yang defisit mengharuskan kita membayar utang kartu kredit dengan pembayaran minimal.

Apakah selalu membayar dengan kredit setiap pembelian barang-barang konsumtif atau yang nilainya menurun?
Bila ya, in mengungkapkan, sebenarnya kita belum mampu membeli barang tersebut. Kita memilih untuk memaksakan diri untuk memilikinya.

Apakah pernah menerima denda atau mendapat surat teguran perihal tagihan kredit?
Sama halnya dengan pertanyaan nomor 4, kita sedang mengalami masalah besar dalam mengelola utang.

Apakah Anda kesulitan menyisihkan sedikitnya 10 persen dari penghasilan kotor untuk tabungan dan investasi jangka panjang?
Bagaimana mungkin kita menyisihkan 10 persen dari dana untuk investasi jangka panjang apabila untuk menutupi kebutuhan bulanan saja kita masih defisit.

Apakah kita selalu resah dengan situasi keuangan?
Masalah keuangan selalui menghantui kita dan dapat mengakibatkan stres yang mendalam.

Menurut Akbar, jika seluruh jawaban itu adalah 'Ya', boleh dibilang kita sudah masuk dalam jeratan utang. ''Kita kemungkinan telah terjebak dalam sindrom “beli sekarang, bayar selamanya”,'' papar Akbar.
Selanjutnya, Akbar mengingatkan, kredit bukanlah suatu hal yang menakutkan dan harus dihindari apabila kredit tersebut adalah kredit produktif.  Akan tetapi, kredit harus benar-benar dikelola atau direncanakan secara hati-hati agar tidak terjebak dalam belitan utang yang berkepanjangan.


Sumber : aidilakbar.com

Tuesday, 26 March 2013

Hana (Pay-Easy) layanan Istimewa Pengiriman Uang ke Indonesia

20:10
Hana PAY-EASY adalah
Layanan aman mengirimkan uang secara otomatis dari ATM, HP dan Internet banking dengan biaya murah, sepat dan mudah.

Pengiriman mudah tanpa harus datang ke bank selama 365 hari setahun, 24 jam jmenggunakan
  • ATM di semua ATM hana bank
  • HP / ARS : 1599-1111 & tekan no "85" untuk bahasa Indonesia
  • Internet banking : dengan buka website www.hanabank.com

Biaya Kirim yang Murah
  • Kirim 100.000 won - 10.000.000 won hanya dengan biaya 8.000 won
  • Biaya administrasi bank perantara USD 11 ( 11 dollar Amerika) 
  • Nilai penukaran kurs daru won ke dollar lebih murah 30%
  • Tidak ada potongan biaya lagi di Indonesia
  • Waktu kirim 1-2 hari kerja ( berlaku untuk semua bank di Indonesia).

Cara daftar
Bisa datang langsung ke hanabank terdekat dengan membawa ID card, Paspor dan alamat lengkap bank di Indonesia yang akan dituju.

Costumer service Indonesia
Tel : 070 8730 7437
HP : 010 8821 7437
fax : 02 2167 1567
website www.idnpass.com

Thursday, 14 June 2012

Agar tak Kedodoran di Tengah Bulan

21:10
Memasuki akhir bulan adalah saat di mana mayoritas para pekerja mendapatkan bayaran atas pekerjaan mereka. Penghasilan masuk berupa gaji sudah seharusnya diatur sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi semua pengeluaran kebutuhan sehari-hari. Jangan sampai, gaji yang anda terima di akhir bulan Januari, langsung habis di hari-hari pertama bulan Februari, yang pada akhirnya malah akan membuat anda kesulitan dalam memenuhi kebutuhan selama sebulan mendatang. 

Ketika kita harus dihadapkan oleh pengaturan arus kas, sekilas terlihat sederhana dan mudah. Hanya terdiri dari penghasilan masuk, yang umumnya berupa gaji, dan pengeluaran untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Namun, ketika kita harus dihadapkan pada implementasinya, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Terutama ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa jumlah pengeluaran yang anda lakukan, malah lebih besar dari penghasilan yang anda terima.

Secara sederhana, arus kas terbagi atas beberapa kelompok spesifik pengeluaran. Sejumlah pos pengeluaran yang biasa anda lakukan, dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok pengeluaran, yaitu Kelompok Primer, Kelompok Kewajiban, Kelompok Sekunder, dan Kelompok Investasi atau Tabungan. Cobalah untuk memasukkan semua pos pengeluaran anda, ke dalam beberapa klasifikasi tersebut. 
Pengeluaran yang masuk ke klasifikasi primer adalah berbagai pengeluaran yang biasanya anda keluarkan untuk menunjang produktifitas dan kehidupan anda sehari-hari. Pengeluaran yang masuk ke dalam klasifikasi ini bersifat vital karena anda tidak bisa mengurangi besarannya secara fleksibel sewaktu-waktu. Misalnya, pengeluaran yang rutin anda lakukan untuk kebutuhan belanja makan bulanan keluarga. Anda tidak bisa serta-merta mengurangi misalnya hingga 50%, karena kebutuhan makan keluarga anda bergantung dari pos pengeluaran tersebut.

Klasifikasi kewajiban terdiri dari berbagai pengeluaran yang berhubungan dengan kewajiban anda terhadap pihak ketiga. Seperti halnya dengan klasifikasi primer, klasifikasi ini juga tidak bisa diubah secara fleksibel karena ini berhubungan dengan pihak lain. Contoh klasifikasi kewajiban yang sangat umum bagi masyarakat Indonesia, terutama di kota besar pada umumnya adalah pengeluaran wajib yang mereka untuk lakukan untuk membayar cicilan kredit bagi bank. Anda tentu tahu jika pengeluaran ini tidak anda bayarkan, maka anda akan berurusan dengan debt collector. Tentu anda tidak ingin hal seperti ini terjadi, bukan?

Untuk klasifikasi sekunder memasukkan berbagai pos pengeluaran yang sifatnya tidak termasuk ke dalam 2 klasifikasi sebelumnya. Pengeluaran yang masuk ke dalam klasifikasi ini biasanya bersifat pengeluaran pribadi dan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas dan produktifitas keseharian anda. Anda dapat melakukan penyesuaian terhadap pengeluaran yang ada di klasifikasi ini sewaktu-waktu anda membutuhkannya. Misalnya anda sedang membutuhkan dana lebih untuk kebutuhan pengeluaran bulanan anda. Contoh dari pengeluaran sekunder ini adalah untuk kebutuhan hobi atau entertainment anda dan keluarga. Jika anda memang rutin dan hobi untuk menonton bioskop bersama keluarga, maka pengeluaran itu dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi pengeluaran sekunder dan jika seandainya pengeluaran itu dikurangi, maka tidak akan mengganggu kondisi produktifitas dan aktivitas lainnya.

Klasifikasi terakhir adalah Pengeluaran Investasi atau Tabungan. Klasifikasi ini disiapkan khusus bagi anda yang memang akan mulai melakukan investasi demi masa depan. Berhubungan dengan kebutuhan investasi, sebaiknya anda menghubungi perencana keuangan anda sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Hal ini agar pengeluaran investasi anda dapat maksimal sesuai dengan kebutuhan anda. Contoh dari pengeluaran tersebut adalah ketika anda mulai mempersiapkan dana pendidikan anak atau persiapan dana pensiun. 

Dengan beberapa pembagian klasifikasi tersebut diharapkan kondisi keuangan anda ke depan dapat lebih teratur dan terencana. So, have fun with the money!

Budi Triadi Pratama, S.Mn, RIFA, RFC, Partners / Senior Advisor AFC Financial Check Up

7 Alasan Kita Perlu Perencanaan Keuangan

21:05
Pada20-30 tahun lalu, masa-masa orang tua kita masih membiayai hidup kita, belum ada yang namanya profesi Financial Planner atau Perencana Keuangan di Indonesia. Tapi 10 tahun belakangan ini profesi ini sudah banyak bermunculan di Indonesia. Dengan berkembangnya gaya hidup yang semakin konsumtif, naiknya inflasi yang membuat kebutuhan hidup dimasa yang akan datang semkin mahal, banyaknya produk-produk investasi yang ditawarkan, dan semakin sadarnya masyarakat akan kesejahteraan hidupnya. 

Beberapa alasan mengapa kita membutuhkan sebuah Perencanaan Keuangan :


1. Untuk melindungi diri kita dan keluarga dari risiko keuangan

Dalam siklus hidup tentunya ada masa-masa naik dan turunnya tingkat kehidupan , dan tidak dapat dipungkiri, dimanapun situasi kehidupan kita, pastinya berhubungan dengan uang. Naik turunnya situasi keuangan masih dapat diatasi dengan bantuan seorang profesional. Apa saja masalah-masalah penting dan darurat yang berhubungan dengan keuangan, contohnya adalah : kehilangan pekerjaan, sakit keras, kecelakaan yang menyebabkan cacat, dan kematian kepala keluarga sebagai sumber pendapatan.

2. Untuk melunasi utang

Memang sangat baik jika kita sudah memiliki investasi, baik investasi pada pasar modal, properti, bisnis maupun barang-barang berharga. Namun masih banyak diantara kita yang juga memiliki hutang yang besar, terutama hutang konsumtif. Hal ini sebenarnya sangat penting untuk dicari jalan keluarnya. Sangatlah tidak tepat jika setiap bulan berinvestasi dengan tujuan untuk mengumpulkan aset namun juga menumpuk hutang yang bunganya lebih tinggi dari hasil investasi kita.
Oleh karena itu, menyelesaikan hutang adalah hal yang paling penting didalam sebuah Perencanaan Keuangan yang kita miliki.

3. Untuk biaya membesarkan anak-anak

Setiap orang tua tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Oleh karena itu porsi yang cukup besar didalam anggaran rumah tangga adalah biaya untuk membesarkan anak-anak yang dapat berlangsung sekitar 20-25 tahun sebelum anak-anak kita dapat membiayai dirinya sendiri. Biaya ini meliputi sejak anak lahir, hingga biaya pernikahan, namun biaya yang paling besar adalah biaya pendidikan sejak memasuki persiapan sekolah (pre-school) hingga perguruan tinggi. Sebagai ilustrasi, jika biaya kuliah saat ini adalah Rp 50 juta, dengan adanya inflasi maka, dalam 15 tahun biaya tersebut menjadi sekitar Rp 770 juta.

4. Untuk pembelian aset, dari kendaraan hingga rumah

Rumah adalah aset utama yang harus dimiliki oleh seseorang, selain untuk digunakan sebagai tempat tinggal, rumah juga mnjadi sebuat aset yang nilainya bertambah dari waktu kewaktu. Aset kedua yang harus dimiliki adalah kendaraan. Umur kendaraan yang nyaman adalah 5 tahun. Jadi layaknya, setiap 5 tahun kita perlu mengganti kendaraan kita. 

Namun tidak semua orang, walaupun sudah memiliki pekerjaan, mampu untuk membeli rumah dan kendaraan karena gaji yang hanya cukup untuk membiayai kehidupan sehari hari sehingga dari tahun ke tahun uang tidak pernah cukup untuk membeli aset.Oleh karena itu diperlukan suatu solusi agar keinginan untuk membeli aset aset dapat tercapai.

5. Untuk membiayai pembelian polis asuransi

Semua aset yang sudah kita kumpulkan adalah untuk memenuhi segala kebutuhan kehidupan keluarga, namun bayangkan jika suatu saat terjadi kecelakaan, sakit atau meninggal, sehingga tidak dapat lagi kita membiayai keluarga kita.Untuk melindungi nilai ekonomis seseorang yang menjadi sumber pendapatan keluarga adalah dengan asuransi. Pertanyaan berikutnya adalah apakah asuransi yang kita miliki nilainya sudah cukup untuk membiayai kehidupan hingga masa depan keluarga yang ditinggalkan dapat terjamin. Berapa sebenarnya nilai asuransi yang harus dimiliki? Apa saja benefit dari asuransi kesehatan yang kita miliki? 

6. Untuk bisa menikmati pensiun dengan taraf hidup yang nyaman

Pensiun adalah saatnya kita menikmati masa istirahat dari pekerjaan. Tentunya kita ingin menikmati dengan taraf hidup yang nyaman. Namun dari mana kita bisa mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai pensiun seperti yang kita inginkan?. Sudah bukan saatnya pada saat pensiun, justru kita masih harus mencari pekerjaan untuk membiayai hidup kita. Bukan hal yang tepat juga jika kita harus bergantung biaya ke anak-anak kita yang mungkin masih memerlukan biaya-biaya untuk kehidupannya sendiri bahkan untuk keluarganya.Sebagai ilustrasi, jika saat ini umur kita 45 tahun dengan biaya hidup kita adalah Rp 15 juta, maka pada saat kita pensiun diumur 55 tahun maka kita membutuhkan dana sekitar Rp 16 Milyar untuk dapat menikmati pensiun selama 20 tahun.

7. Untuk mewariskan kekayaan kita kepada anak-anak

Jika kita sudah memiliki Perencanaan Keuangan maka segala aset dan kekayaan kita sudah tertata untuk setiap tujuan. Pada akhirnya, jika kita berumur panjang dan memasuki usia pensiun, segala kekayaan yang kita miliki dapat kita wariskan kepada anak-anak. Oleh karena itu menyiapkan wasiat juga menjadi bagian dari sebuah Perencaan, agar generasi berikutnya dapat menikmati dan memelihara kekayaan yang kita wariskan.

Kapan saat yang tepat untuk memulai Perencanaan? Semakin dini memulai sebuah Perencanaan, akan semakin baik, terutama pada saat usia masih produktif. Dengan demikian kondisi keuangan akan menjadi lebih baik dengan jangka waktu investasi yang panjang untuk mendapatkan hasil yang maksimal. 

Lisa Soemarto, MA, RIFA, RFC-Senior Financial Advisor AFC

Friday, 4 May 2012

Perencanaan Keuangan Usaha Pemula

21:06
Banyak orang saat ini merencanakan memiliki usaha sebagai salah satu kendaraan untuk menuju kebebasan finansial. Sah-sah saja, tetapi kadang sebagian orang hanya berpikir action saja tanpa ada perencanaan yang matang, sehingga banyak usahanya yang bertumbangan di jalan. Parahnya lagi, banyak di antara mereka yang sudah terlanjur keluar dari tempat kerjanya tanpa persiapan yang cukup. Lantaran berniat fokus dan “membakar kapal”. Akhirnya, tidak sedikit yang memutuskan untuk bekerja lagi, karena usahanya gagal di tengah jalan.


Bagi saya,  merencanakan keuangan dalam memulai usaha sangat perlu, baik dari segi keuangan bisnis maupun keuangan pribadi tetap direncanakan dengan matang. Hal ini agar segala sesuatu bisa diantisipasi dengan baik. Nah, apa saja yang harus disiapkan bila kita ingin merencanakan usaha ?

1. Persiapan Dana Darurat atau Cadangan

Dana darurat atau cadangan ini penting bagi seseorang yang akan memasuki dunia usaha. Paling tidak ini mengantisipasi bila Anda mengalami kegagalan. Atau sebagai bemper bila penghasilan usaha Anda belum bisa diharapkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dana cadangan untuk pengusaha paling tidak minimal 12 bulan pengeluaran keluarga. Kenapa? Biasanya 12 bulan pertama kegiatan usaha masih mengejar target balik modal dan uang usaha masih berputar untuk pengembangan omset. Jadi, keuntungan belum bisa digunakan untuk keperluan pribadi.  Kalau Anda cukup optimis dengan target bisnis Anda, maka bisa saja dana cadangan lebih kecil sebesar 6 bulan pengeluaran. Dana cadangan sebaiknya disimpan pada produk yang mudah dicairkan, seperti tabungan biasa, deposito, atau beli emas batangan.

2. Persiapan Modal

Untuk membuka bisnis, ambil contoh garment, pertama harus menentukan beberapa macam modal, yaitu biaya investasi peralatan, seperti mesin jahit, obras, dll. Atau bila Anda hanya sebagai distributor yang membuka toko garment Anda perlu perlengkapan untuk keperluan display produk dan peralatan toko seperti rak-rak, etalase, manequin, cash register, dll.

Anda juga memerlukan modal kerja untuk pembelian bahan baku, seperti kain, benang bila Anda memproduksi. Atau biaya pembelian pakaian jadi bila Anda hanya menjadi reseller. Sebaiknya, modal ini dicadangkan untuk 3 bulan ke depan yang bisa dikeluarkan tiap bulan atau ketika ada order. Modal ini juga bisa ditekan bila Anda menerapkan sistem konsinyasi atau titip jual dari supplier bila Anda sebagai reseller. Untuk menjadi reseller sebenarnya Anda bisa juga menjual secara online di webstore atau blog. Di mana Anda hanya menampilkan gambar sampel produk pakaian jadi tersebut. Bila ada pembeli yang memesan, baru Anda mengirim produknya.

Biaya yang perlu disiapkan lagi adalah biaya operasional untuk menjalankan usaha, seperti sewa tempat, gaji karyawan, listrik, kas kecil, dll.  Biaya operasional sebaiknya juga dicadangkan 3 bulan untuk berjaga-jaga selama usaha Anda belum menguntungkan.

3. Pengaturan Cashflow Keuangan

Untuk menjaga agar keuangan usaha atau bisnis terkelola dengan rapi, tertiblah melakukan pencatatan uang masuk dan keluar. Lakukan pembukuan dengan teratur, dan pisahkan keuangan usaha dengan keuangan pribadi. Jangan mudah mengambil uang usaha untuk keperluan pribadi, kalaupun terpaksa lakukan pencatatan dan segera kembalikan ke kas usaha.

Dengan melakukan pencatatan keuangan akan mudah dilakukan evaluasi terhadap keuangan usaha Anda dan diketahui seberapa besar profit dan pertumbuhannya. Kita boleh saja mengambil uang usaha untuk keperluan pribadi, bila memang setelah dihitung ada keuntungan. Pengusaha bisa saja mengambil prosentase dari laba bersih usahanya bila usaha masih mengalami fluktuatif. Atau diperhitungkan sebagai gaji tetap bulanan, bila pemasukan usaha Anda terlihat stabil. Jangan lupa sisihkan keuntungan usaha untuk membayar zakat, membayar hutang (jika ada), dan untuk ekspansi usaha atau pengembangan. Dibuku saya yang berjudul “Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang” ada formula alokasi pembagian keuntungan yang bisa diterapkan dalam usaha Anda.

Bila Anda masih bekerja dan sambil berbisnis pada saat awal membuka usaha mungkin keuntungan  usaha Anda masih jauh lebih kecil dibanding gaji dari pekerjaan. Tetapi, makin tumbuhnya usaha dan bila didukung promosi yang kuat, maka usaha Anda makin maju dan bukan tidak mungkin keuntungan usaha sudah jauh melebihi gaji Anda. Tinggal Anda memutuskan, apakah tetap akan berbisnis sambil bekerja ataukah  meninggalkan pekerjaan dan terjun total dalam usahanya.

Menjadi pengusaha adalah menggaji dirinya sendiri. Oleh karena itu, Anda sendirilah yang menentukan target penghasilan Anda. Bila merasa tidak cukup dengan keuntungan usaha yang kecil, maka kejar terus target omset bisnis Anda, sehingga keuntungan juga meningkat dan penghasilan juga akan naik.

Selamat merencanakan usaha Anda dan semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita sekalian. Amin.



sumber Web: www.perencanaankeuangansyariah.com

Tuesday, 1 May 2012

Pembiayaana Bank Syariah Mandiri

Pembiayaana Bank Syariah Mandiri

16:43
Salah satu sumber pembiayaan dari lembaga keuangan bank, yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM adalah dari Bank Syariah.  Pada saat ini sudah ada beberapa bank yang full syariah, seperti Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank Muamalat Indonesia (BMI), Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI), dan beberapa bank lagi akan di spin off menjadi full syariah.  Selain ini hampir semua bank konvensional sudah memiliki UUS Unit Usaha Syariah, termasuk bank asing yang ada di Indonesia.


Keberadaan bank dengan sistem syariah membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk menambah akses modal.  Sistem syariah diantara nya memakai pola bagi hasil (mudharabah), jual beli (murabahah) dan musyarakah dan beberapa pola lainnya (akan dibahas tersendiri).

Berikut ini kami informasikan produk pembiayaan murabahan dan pembiayaan mudharabah yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM terutama untuk membeli barang dan alat (investasi) serta untuk modal kerja (mudharabah).  Silahkan pelajari dan manfaatkan

Pembiayaan Murabahah BSM

Pembiayaan Murabahah BSM adalah pembiayaan berdasarkan akad jual beli antara bank dan nasabah. Bank membeli barang yang dibutuhkan dan menjualnya kepada nasabah sebesar harga pokok ditambah dengan keuntungan margin yang disepakati.

Manfaat:

  • Membiayai kebutuhan nasabah dalam hal pengadaan barang konsumsi seperti rumah, kendaraan atau barang produktif seperti mesin produksi, pabrik dan lain-lain

  • Nasabah dapat mengangsur pembayarannya dengan jumlah angsuran yang tidak akan berubah selama masa perjanjian.

Fasilitas:

  • Periode kontrak ditentukan nasabah

  • Pembiayaan dalam valuta rupiah atau US dollar

  • Jangka waktu : 5 tahun (untuk kendaraan) dan 10 tahun (untuk rumah)

  • Untuk pembelian kendaraan bermotor baru ataupun bekas.

Jenis Pembiayaan:

  1. Pembiayaan rumah

    1. Maksimum 70% dari harga beli

    2. Jangka waktu 10 tahun.

  2. Pembiayaan kendaraan

    1. Maksimum 80% dari harga beli

    2. Jangka waktu untuk kendaraan baru adalah 5 tahun dan untuk kendaraan bekas pakai, maksimum usia kendaraan saat jatuh tempo adalah 10 tahun.










# Persyaratan Pembiayaan # Simulasi Pembiayaan Murabahah BSM

Sumber : BSM Bank Syariah Mandiri

Pembiayaan Mudharabah BSM

Pembiayaan Mudharabah BSM adalah pembiayaan dimana seluruh modal kerja yang dibutuhkan nasabah ditanggung oleh bank. Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati.

Manfaat:

  • Membiayai total kebutuhan modal usaha nasabah

  • Nisbah bagi hasil tetap antara Bank dan Nasabah

  • Angsuran berubah-ubah sesuai tingkat revenue atau realisasi usaha nasabah (revenue sharing).

Fasilitas:

  • Pembiayaan dalam valuta rupiah atau US Dollar

  • Keuntungan dibagi sesuai kesepakatan

  • Mekanisme pengembalian pembiayaan yang fleksibel (bulanan atau sekaligus diakhir periode)

  • Bagi hasil berdasarkan perhitungan revenue sharing

  • Pembiayaan dapat dalam berupa Rupiah dan US Dollar.










# Persyaratan Pembiayaan # Simulasi Pembiayaan Murabahah BSM

Sumber : Bank Syariah Mandiri

Saturday, 28 April 2012

Merencanakan Ekonomi cara Robert T Kiyosaki

Merencanakan Ekonomi cara Robert T Kiyosaki

06:13
Pada tahun 1985, Robert T. Kiyosaki dan Kim, istrinya, tidak mempunyai tempat tinggal. Mereka tak punya pekerjaan dan hanya punya sedikit sisa tabungan. Kartu kredit mereka sudah melampaui batas pengambilan, dan mereka hidup di dalam sebuah Toyota cokelat usang dengan kursi reclining yang berfungsi sebagai tempat tidur. Kadang-kadang mereka melakukan pekerjaan serabutan dan mendapat beberapa dolar di sana sini. Pada saat itu mereka diliputi keraguan yang dalam. Gagasan sebuah pekerjaan yang aman dan menjamin dengan slip gaji bulanan terasa sangat menggoda. Tapi karena keamanan kerja bukanlah yang mereka cari, mereka terus berjuang. Hidup dari hari ke hari, di tepi jurang kehancuran finansial.

Tahun itu, 1985, adalah tahun terburuk dalam hidup mereka, sekaligus yang terpanjang. Siapa pun yang mengatakan bahwa uang tidak penting sudah jelas tak pernah merasakan tidak punya uang dalam waktu lama. Mereka tahu, mereka selalu bisa mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi yang aman dan menjamin. Mereka sama-sama lulusan perguruan tinggi dengan ketrampilan bekerja yang bagus dan etos kerja yang kuat. Tapi mereka tidak mencari keamanan pekerjaan. Mereka mencari kebebasan finansial.

Pada tahun 1989 mereka sudah menjadi jutawan. Meskipun tampak berhasil secara finansial di mata orang-orang, saat itu mereka tetap belum mencapai impian mereka. Mereka belum meraih kebebasan finansial yang sejati. Masih diperlukan waktu sampai tahun 1994. Saat itulah mereka sudah tidak perlu lagi bekerja seumur hidup mereka. Mereka berdua sudah memperoleh kebebasan finansial. Robert berumur 47, Kim 37.

Sering sekali kita mendengar orang berkata, “Dibutuhkan uang untuk menghasilkan uang.”

Robert tidak sependapat. Dari kondisi tuna wisma di tahun 1985 hingga menjadi jutawan di tahun 1989 dan kemudian mencapai kebebasan finansial di tahun 1994, mereka tidak membutuhkan uang. Mereka tidak mempunyai uang ketika memulainya, bahkan mereka memiliki utang.

Juga tidak dibutuhkan pendidikan formal yang tinggi. Robert punya ijazah perguruan tinggi, dan sejujurnya ia mengatakan bahwa mencapai kebebasan finansial tidak ada hubungannya dengan apa yang dipelajari di perguruan tinggi. Banyak orang sukses meninggalkan bangku sekolah tanpa memperoleh ijazah perguruan tinggi. Orang-orang seperti Thomas Edison, pendiri General Electric; Henry Ford, pendiri Ford Motor Co.; Bill Gates, pendiri Microsoft; Ted Turner, pendiri CNN; Michael Dell, pendiri Dell Computers; Steve Jobs, pendiri Apple Computer; dan Ralp Lauren, pendiri Polo. Pendidikan perguruan tinggi penting untuk profesi tradisional, tapi tidak bagi cara orang-orang ini mendapatkan kekayaan besar. Mereka mengembangkan bisnis mereka sendiri yang berhasil. Dan itulah yang dulu diupayakan Robert dan Kim dengan susah payah.

Jadi, apa yang dibutuhkan?

Mind Your Business with Financial Intelligence

Apakah Anda selama ini bekerja keras dan membuat orang lain kaya? Sejak kecil kebanyakan orang diprogram untuk mengurus bisnis orang lain dan membuat orang lain kaya. Hal ini diawali tanpa sadar dengan kata-kata nasihat sebagai berikut:

1.“Kau harus bersekolah dan mendapat nilai bagus supaya bisa mempunyai pekerjaan yang aman dan menjamin dengan gaji tinggi serta tunjangan yang bagus.”
2.“Kau harus bekerja keras supaya bisa membeli rumah impianmu, karena rumahmu adalah aset dan investasimu yang paling berharga.”
3. “Hipotek menguntungkan kita karena pemerintah memberikan pemotongan pajak untuk pembayaran bunganya.”
4.“Beli sekarang, bayar belakangan,” atau “Uang muka kecil, angsuran bulanan ringan,” atau “Silakan masuk dan menabung.”

Orang yang begitu saja mengikuti kata-kata nasihat itu sering menjadi:

1.Pegawai, membuat atasan dan pemilik perusahaan kaya.
2. Debitor, membuat bank dan kreditor kaya.
3. Pembayar pajak, membuat pemerintah kaya.
4. Konsumen, membuat banyak bisnis lain kaya.

Bukannya mencari jalur cepat finansial mereka sendiri, mereka membantu orang lain menemukan jalur cepat finansial mereka. Bukannya mengurus bisnis mereka sendiri, mereka bekerja keras seumur hidup mengurus bisnis orang lain.

CASHFLOW Quadrant

Menurut Robert Kiyosaki dalam bukunya “CASHFLOW Quadrant”, ada empat kuadran yang mungkin menjadi sumber penghasilan seseorang.
Diagram ini adalah CASHFLOW Quadrant.

Huruf dalam masing-masing kuadran mewakili:

E untuk employee (pegawai)
S untuk self-employed (pekerja lepas)
B untuk business owner (pemilik usaha)
I untuk investor (penanam modal)

CASHFLOW Quadrant mewakili berbagai metode yang berlainan untuk mendapatkan uang atau penghasilan. Sebagai contoh, seorang “E” mendapat uang dengan bekerja untuk orang lain atau perusahaan. Orang-orang “S” mendapat uang dengan bekerja untuk diri sendiri. Seorang “B” memiliki usaha yang menghasilkan uang, dan “I” mendapatkan uangnya dari berbagai investasi mereka – dengan kata lain, uang menghasilkan uang yang lebih banyak.

Seorang “E” (pegawai) bisa merupakan presiden direktur perusahaan atau tukang sapu perusahaan. Yang terpenting bukanlah apa yang mereka lakukan, tapi perjanjian mengikat yang mereka miliki dengan orang atau organisasi yang mempekerjakan mereka.

Dalam kelompok “S” (pekerja lepas) kita menemukan “profesional” berpendidikan tinggi yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di bangku sekolah, seperti misalnya dokter, pengacara, dan akuntan. Juga dalam kelompok ini terdapat orang-orang yang mengambil jalur pendidikan di luar, atau di samping, aliran tradisional. Kelompok ini meliputi wiraniaga dan pemilik bisnis kecil seperti pemilik toko eceran, pemilik restoran, kontraktor, konsultan, ahli terapi, agen perjalanan, montir mobil, tukang ledeng, tukang kayu, pengkhotbah, tukang listrik, penata rambut, dan artis.

Seorang “B” nyaris merupakan lawan dari “S.” Mereka senang mengitari diri mereka dengan orang-orang pandai dari keempat kategori. Tidak seperti “S” yang tak suka mendelegasikan pekerjaan (karena menganggap tidak ada yang bisa melakukannya dengan lebih baik), seorang “B” sejati suka mendelegasikan pekerjaan.

Perbedaan utama antara “S” dan “B” adalah, seorang “S” memiliki sebuah pekerjaan sedangkan seorang “B” memiliki sebuah sistem dan kemudian menyewa orang-orang yang berkompeten untuk menjalankan sistem itu. Atau dengan cara lain bisa dikatakan, dalam banyak kasus “S” adalah sistemnya. Itu sebabnya mereka tidak bisa pergi meninggalkan bisnisnya untuk waktu yang lama.

Sebaliknya, mereka yang merupakan “B” sejati bisa meninggalkan usaha mereka selama satu tahun atau lebih, dan pada saat kembali menemukan bisnis mereka lebih menguntungkan serta berjalan lebih baik dibanding ketika mereka tinggalkan. Dalam bisnis jenis “S” murni, jika sang “S” pergi selama satu tahun atau lebih, kemungkinan besar takkan ada bisnis yang tersisa ketika mereka kembali.

Pemilik bisnis “B” bisa berlibur selamanya karena mereka memiliki sebuah sistem, bukan sebuah pekerjaan. Jika “B” sedang berlibur, uangnya masih mengalir masuk. Sangat banyak orang yang bisa membuat burger lebih enak dari McDonald’s, tapi hanya McDonald’s yang mempunyai sistem yang telah menyajikan miliaran burger. Bill Gates dari Microsoft tidak membuat produk hebat. Ia membeli produk orang lain dan membangun sistem global yang canggih di sekitarnya.

“I” (investor) membuat uang dengan uang. Mereka tak perlu bekerja karena uang mereka bekerja untuk mereka. Kuadran “I” adalah arena bermain golongan kaya. Di kuadran manapun orang menghasilkan uang, jika berharap suatu hari akan kaya, mereka pada akhirnya harus memasuki kuadran “I”. Di dalam kuadran “I” inilah uang diubah menjadi kekayaan.

Itulah CASHFLOW Quadrant, yang sebenarnya hanya memaparkan perbedaan tentang cara memproleh penghasilan, entah itu sebagai “E” (pegawai), “S” (pekerja lepas), “B” (pemilik usaha), atau “I” (penanam modal).

Perbedaan pokok keempat kuadran itu terangkum di bawah ini:

E : Anda adalah pegawai yang bekerja untuk orang lain atau perusahaan.

S : Anda memiliki pekerjaan dan Anda terikat dengan pekerjaan itu.

B : Anda memiliki sistem dan orang lain bekerja untuk Anda.

I : Uang bekerja untuk Anda.
MEMILIH KUADRAN ANDA

Sebagian besar dari kita pernah mendengar bahwa rahasia memperoleh kekayaan besar adalah:

1. OPT – Other People’s Time (Waktu Orang Lain).
2.OPM – Other People’s Money (Uang Orang Lain).

OPT dan OPM ditemukan di sisi kanan Quadrant. Kebanyakan orang yang bekerja di sisi kiri Quadrant adalah OP (Other People) yang waktu dan uangnya dipergunakan oleh mereka yang berada di sisi kanan Quadrant. Di sisi kiri, para “E” dan “S” mungkin memiliki keamanan pekerjaan. Tapi, hanya dengan menjadi “B” atau “I” di sisi kanan Quadrant-lah Anda akan meraih kemanan dan kemudian kebebasan finansial.


Dengan memilih bisnis jenis “B”, bukannya bisnis jenis “S”, Anda akan memperoleh keuntungan jangka panjang menggunakan “waktu orang lain”. Salah satu kelemahan menjadi “S” yang berhasil adalah: keberhasilan itu berarti harus bekerja lebih keras. Dengan kata lain, pekerjaan yang bagus menghasilkan kerja yang lebih keras dan jam kerja yang lebih panjang.

Dalam merancang bisnis di sisi kanan Quadrant, sukses berarti meningkatkan sistem dan melibatkan lebih banyak orang. Dengan kata lain, kita bekerja lebih sedikit, menghasilkan uang lebih banyak, dan menikmati lebih banyak waktu luang.

Di seluruh Quadrant dibutuhkan kecerdasan finansial. Jika ingin beroperasi di sisi kanan Quadrant, yaitu sisi “B” dan “I”, Anda harus lebih pandai daripada jika memilih diam di sisi kiri Quadrant sebagai “E” dan “S”. Untuk menjadi “B” atau “I”, Anda harus bisa mengendalikan ke arah mana cash flow Anda mengalir.

KEKAYAAN DAN CASH FLOW

Robert Kiyosaki mendefinisikan kekayaan sebagai: “Jumlah hari di mana Anda bisa bertahan tanpa bekerja secara fisik (atau tanpa siapa pun dalam keluarga Anda bekerja secara fisik) dan tetap mempertahankan tingkat kehidupan Anda.”

Sebagai contoh: Jika pengeluaran Anda adalah Rp. 1.000.000,- per bulan, dan jika Anda memiliki tabungan sebesar Rp. 3.000.000,- maka kekayaan Anda adalah sekitar 3 bulan atau 90 hari. Kekayaan diukur dalam satuan waktu, bukan uang.

Jadi, yang penting bukanlah terutama tentang berapa banyak uang yang Anda hasilkan, tapi lebih mengenai berapa banyak uang yang Anda simpan, seberapa keras uang itu bekerja untuk Anda, dan berapa banyak generasi yang bisa Anda hidupi dengan uang itu. Itulah yang disebut kecerdasan finansial.

Beberapa tahun lalu, sebuah artikel menuliskan bahwa sebagian besar orang kaya menerima 70% penghasilan mereka dari investasi, atau dari kuadran “I”, dan kurang dari 30%-nya dari gaji, atau dari kuadran “E”. Dan jika bekerja sebagai “E”, maka kemungkinan besar mereka adalah pegawai perusahaan mereka sendiri.

Bagi kebanyakan orang lain, yaitu golongan miskin dan kelas menengah, setidaknya 80% penghasilan mereka berasal dari gaji di kuadran “E” atau “S” dan kurang dari 20% berasal dari investasi, atau dari kuadran “I”.

Banyak orang percaya bahwa hanya dengan menghasilkan lebih banyak uang, masalah finansial mereka akan selesai. Tapi, dalam banyak kasus, hal ini malah hanya menimbulkan masalah keuangan yang lebih besar. Alasan utama orang mempunyai masalah keuangan adalah karena mereka tidak pernah mendapat pelajaran tentang pengelolaan cash flow. Tanpa latihan ini mereka akhirnya mendapat masalah keuangan, lalu mereka bekerja lebih keras dengan keyakinan bahwa lebih banyak uang akan memecahkan masalah mereka.

Jadi, jika Anda ingin mengurus bisnis Anda sendiri, langkah berikut sebagai CEO bisnis hidup Anda adalah mengendalikan cash flow Anda. Jika Anda tidak melakukannya, menghasilkan lebih banyak uang takkan membuat Anda bertambah kaya… bahkan, lebih banyak uang membuat sebagian besar orang semakin miskin karena mereka sering pergi membelanjakannya dan semakin dalam terbenam utang setiap kali mendapat kenaikan gaji.

Seperti dinyatakan oleh Robert Kiyosaki dalam bukunya “Rich Dad Poor Dad,” ada tiga pola cash flow dasar. Satu untuk kelompok miskin, satu untuk kelompok kelas menengah, dan satu untuk kelompok kaya. Inilah pola cash flow untuk kelompok miskin:


Dan ini adalah pola cash flow kelas menengah:
Pola cash flow ini dianggap “normal” dan “inteligent” oleh masyarakat kita. Karena orang-orang yang mempunyai pola ini kemungkinan memiliki pekerjaan dengan bayaran tinggi, rumah bagus, mobil, dan kartu kredit.

Inilah yang disebut “impian kelas pekerja.”

Mempunyai pola cash flow kelas menengah memang normal di Era Industri, tapi hal itu bisa berbahaya di Era Informasi. Seiring dengan berkembangnya kecerdasan finansial, banyak orang yang mulai menyadari kesulitan finansial yang sedang mereka alami, meskipun masyarakat menganggap mereka “normal secara finansial.”

Ketika pemahaman itu timbul, Anda harus mulai berpikir seperti orang kaya dan bukannya seperti pekerja keras kelas menengah. Dengan mengubah pola berpikir Anda seperti pola berpikir kelompok kaya, Anda akan mulai mencari pola cash flow seperti ini:nilah pola pemikiran mental yang diajarkan oleh Robert Kiyosaki.

Ia tidak menyarankan Anda menjadi kecanduan pekerjaan dengan bayaran tinggi, tapi agar Anda mengembangkan pola pemikiran yang hanya terpusat pada aset dan pemasukan dalam bentuk capital gain, deviden, pemasukan uang sewa, pemasukan residual bisnis, dan royalti atau passive income.

Bagi Anda yang ingin berhasil di Era Informasi, semakin cepat mulai mengembangkan kecerdasan finansial serta emosional untuk berpikir dalam pola ini, semakin cepat Anda akan merasa lebih aman secara finansial dan menemukan kebebasan finansial. Dalam dunia di mana terdapat semakin sedikit keamanan pekerjaan, pola cash flow ini terasa lebih masuk akal. Dan untuk mencapai pola ini Anda perlu melihat dunia dari sisi “B” dan “I”, tidak hanya dari kuadran “E” dan “S” saja.

Di Era Informasi, gagasan kerja keras tidak mempunya arti yang sama dengan Era Agraria dan Era Industri. Di Era Informasi, orang yang bekerja fisik paling keras akan dibayar paling sedikit. Jadi, ungkapan “pakai otak, jangan pakai otot” maksudnya bukan memakai otak di kuadran “E” dan “S”. Yang dimaksud adalah memakai otak di kuadran “B” dan “I”. Itulah pola berpikir Era Informasi, yang membuat kecerdasan finansial dan emosional sangat penting saat ini seperti halnya di masa depan.

Selanjutnya...... BERSAMBUNG......

Thursday, 26 April 2012

10 Tips Meraih Dukungan Keluarga untuk Berwirausaha

10 Tips Meraih Dukungan Keluarga untuk Berwirausaha

22:35
Untuk menjadi enetrpreneur memang perlu dukungan dari seluruh keluarga, baik itu istri kalo sudah menikah juga dari orang tua kita. Kalau keluarga kita sudah memahami enterpreneurship tentu takan begitu susah memberi dukungan ke kita, karena faktanya entrepreneur sering tumbuh pada lingkungan keluargayang bermental entrepreneur tetapi saat entrepreneur tumbuh dari keluarga karyawan, pertentangan sering muncul.

Entrepreneur memahami bagaimana seluk beluk bekerja untuk diri sendiri dan mereka telah mengalaminya langsung. Namun bagi orang-orang yang hidup dan tumbuh dari gaji bulanan, entrepreneurship atau kewirausahaan sering dirasakan terlalu berisiko.

Pendapat mereka ada benarnya: Anda menggunakan uang Anda sendiri, meminjam dari pihak lain, dan bekerja sangat keras seperti kesetanan. Semuanya hanya supaya mraih sukses dan mencari nafkah dan membayar pengeluaran sehari-hari. Dan karena Anda masih muda, mungkin mereka berpikir Anda akan menjalani fase labil.

Tak peduli alasannya, yang terpenting ialah orang-orang yang Anda kasihi mungkin tidak memahami apa yang Anda coba lakukan. Sehingga kini tergantung pada Anda untuk membantu mereka memahami semuanya dalam sudut pandang Anda. Berikut ialah 10 cara untuk mengubah kekhawatiran mereka menjadi antusiasme terhadap ide bisnis Anda:

1.  Jelaskan rencana Anda.

Mereka mungkin membutuhkan lebih dari sekadar elevator pitch untuk memahami sepenuhnya apa yang Anda sedang perjuangkan. Itu berarti Anda harus lebih menyiapkan diri dalam menjelaskannya daripada saat bertemu dengan investor potensial bahkan. Jelaskan anggaran, tujuan strategis, pelanggan potensial, rencana pemasaran dan rencana lainnya yang sudah Anda buat yang akan menunjukkan bahwa Anda sudah memikirkan ide bisnis itu masak-masak.



2.  Tunjukkan mereka hasil survei Anda.

Anda tidak serta merta mendapatkan ide bisnis dari antah berantah. Tunjukkan pada keluarga artikel, statistik, demografi dan informasi pasar yang menegaskan adanya kebutuhan akan produk atau jasa yang Anda hasilkan dengan bisnis tersebut. Atau berikan informasi pendukung lainnya yang mendukung ide bisnis itu.

3.  Berikan contoh.

Mungkin mereka sudah mengetahui kisah-kisah gagal entrepreneur, jadi kini saatnya Anda tunjukkan kisah sukses entrepreneur. Bicarakan mengenai sosok-sosok yang mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari, bukan membicarakan entrepreneur super sukses yang tak mereka kenali seperti Steve Jobs. Jika mungkin, ceritakanlah jenis bisnis yang serupa  dengan yang Anda tekuni sehingga mereka bisa dengan mudah menemukan benang merahnya.

4.  Hubungkanlah.

Sebagian orang tidak menganggap pemilik UKM sebagai entrepreneur tetapi dalam kenyataannya mereka mengambil risiko yang sama, bekerja lebih panjang membangun bisnisnya, berhemat dan berutang untuk membuat bisnisnya sukses. Keluarga Anda mungkin akan bisa lebih memahami alasan Anda berbisnis online, misalnya, dengan memberikan sekilas perbandingan dengan bisnis makanan yang sukses di sekitar lingkungan Anda.

5.  Libatkan keluarga.

Jika Anda meneliti kembali ide Anda dan meminta nasihat, mereka mungkin akan tertarik untuk menjelajahi segala kemungkinannya. Bisa jadi orang-orang yang Anda kasihi ini mampu memberikan sumbangan ide dari gaya logo, menemukan pasar yang menjanjikan untuk dibidik untuk produk Anda, dan sebagainya. Anda mungkin terkejut dengan saran-saran yang mereka berikan saat mereka Anda libatkan secara aktif.

6.  Tunjukkan rencana cadangan.

Terapkan dalam pikiran mereka agar tidak terkejut dengan memberikan rencana cadangan. Menyusun rencana cadangan tak hanya akan mengurangi risiko Anda, tetapi juga akan menunjukkan bahwa Anda menyadari kemungkinan kegagalan.



7.  Kesadaran pentingnya akunting.

Mungkin Anda tidak ingin berbagi seluruh anggaran dengan keluarga Anda. Namun, dengan menjelaskan sejumlah rencana keuangan Anda termasuk cara mengurangi investasi hingga laba mulai dihasilkan secara signifikan akan mengurangi kecemasan mereka bahwa Anda menggadaikan kehidupan Anda untuk impian yang belum sepenuhnya jelas. Anda mungkin melakukan kesalahan kelak tetapi Anda setidaknya bisa menunjukkan bahwa dana yang Anda miliki akan dibelanjakan dengan penuh kehati-hatian dan tanggung jawab penuh.

8.  Tunjukkan sukses kecil sebelum sukses besar.

Sukses kecil di awal misalnya mendapatkan klien pertama atau mendapatkan penjualan pertama akan menjadi sebuah bukti untuk meyakinkan keluarga bahwa pilihan Anda tidak salah. Tunjukkan sejumlah keberhasilan kecil daripada memberikan janji-janji muluk yang belum nyata.



9.  Minta lebih banyak dukungan.

Apakah paman Anda seorang wirausahawan? Apakah teman dekat ayah Anda memiliki bisnis yang lumayan besar? Minta bantuan mereka untuk mendiskusikan hal ini dengan anggota keluarga lainnya yang belum menyetujui pilihan Anda untuk berbisnis. Dengan demikian, Anda tak hanya akan berjuang sendirian. Mereka akan membantu Anda dengan cara yang mereka bisa pula.

10.  Biarkan apa adanya.

Bila keluarga Anda belum sepenuhnya memahami apa yang Anda lakukan dan belum yakin bahwa wirausaha adalah pilihan yang tepat, tak ada cara lain selain membiarkan hal itu demikian adanya. Namun Anda harus membuat keputusan sendiri. Dengarkan nasihat mereka, tetap cintai dan hormati mereka dengan tetap melakukan apa yang Anda telah yakini. Uang Anda, karir Anda tetap menjadi keputusan Anda. (YoungEntrepreneur.com/ *AP)

sumber : www.eciputra.com

Wednesday, 25 April 2012

Kapan Saatnya Kita Perlu Utang ?

Kapan Saatnya Kita Perlu Utang ?

16:45
"Pinjaman tunai tanpa jaminan hingga Rp 200 juta proses cepat, hubungi 081… …" demikian pesan singkat yang tertulis pada telepon genggam, sepintas pesan tersebut menarik, tapi sesungguhnya kita wajib hati-hati karena pinjaman adalah identik dengan utang maka sudah pasti utang tersebut haruslah dapat dikembalikan berikut dengan bunganya, ya berikut dengan bunganya dan sesuai dengan jangka waktu yang disepakatinya.

Lalu pertanyaan berikut adalah apakah utang tidak boleh saya ambil seumur hidup? Mana yang lebih baik kita berutang atau tunai alias cash? Lalu bagaimana jika kita berada dalam kondisi terdesak jeratan utang? Jika pada akhirnya kita memutuskan untuk berutang dan atau menambah utang bagaimana kirannya waktu yang paling tepat untuk di ambil?


Nah untuk menjawabnya marilah kita sepakati dulu bahwa konsep utang adalah pinjam meminjam, dengan demikian karena bersifat pinjaman maka sudah menjadi kewajiban bagi penerima pinjaman (debitur) untuk mengembalikan kepada pemberi pinjaman (kreditur) dan tentunya pengembalian tersebut harus sesuai dengan kesepakatan debitur dan kreditur.

Biasanya dalam kesepakatan tersebut ada faktor yang melekat didalamnya yaitu jangka waktu dan imbal hasil atau bunga utang. Utang sangat berbeda dengan investasi, dalam investasi kewajiban untuk memberikan imbal hasil investasi dapat naik atau turun dari ekspektasi sedang utang pada umumnya memiliki imbal hasil (bunga) yang tetap dalam kondisi apapun.

Dengan demikian utang memiliki konsep yang sangat ketat (mengembalikan dalam kondisi apapun) maka sudah menjadi kewajiban bahwa pengambilan utang haruslah memenuhi kaidah kerja produktif, konstruktif bukan konsumtif.


Jadi bagi calon debitur, jika ingin mengambil utang maka pertimbangkanlah masak-masak beberapa faktor berikut ini:
• Penggunaan dana utang, ya pertimbangkan secara masak alokasi dana pinjaman tersebut, ada 3 (tiga) kemungkinan alokasi penggunaan dana pinjaman yakni:
1. Penggunaan produktif yaitu utang untuk modal investasi atau modal kerja;
2. Penggunaan konsumtif yaitu utang untuk membeli barang-barang yang dipakai tanpa ada aktifitas produktif dari barang tersebut;
3. Penggunaan konstruktif yaitu utang dipakai untuk membayar utang lama yang memiliki tingkat bunga dan cicilan yang tinggi dari utang yang baru, dalam hal ini debitur melakukan restrukturisasi yang bersifat konstruktif atas kewajiban pembayaran utang yang sedang berjalan.


• Kemampuan bayar cicilan yakni besarnya tidak melebihi dari 35 persen dari penghasilan setiap bulannya, ini berarti sangat erat kaitannya dengan:
1. Jangka waktu pinjaman serta uang muka yang dibayar (jika ada);
2. Suku bunga utang.


• Manajemen resiko atas utang tersebut, yakni jika debitur meninggal dunia maka utang tersebut harus sudah dilindungi dengan asuransi jiwa dengan uang pertanggungan minimal sama dengan jumlah utang tersebut.

Singkat kata calon debitur yang akan berhutang harus memperhatikan penggunaan dana dan kemampuan bayar, jika tidak pasti akan terjerumus dalam lubang utang yang lebih besar. Kedua hal tersebut haruslah dilakukan secara bersamaan bahkan sebelum utang diambil.

Namun adakalanya kita dalam posisi terdesak untuk membayar utang, misalkan kita dalam tekanan pihak debt collector dan kita menyadari bahwa faktor diatas tidak dapat kita penuhi, namun utang baru meskipun bunga lebih tinggi harus tetap harus diambil, pada posisi ini maka saran kami adalah TIDAK MENGAMBIL utang yang baru, namun bicarakan dengan pihak Bank untuk mendapatkan keringanan.

Jika pembicaraan dengan pihak Bank tidak menemukan hasil yang memuaskan maka alangkah baiknya sebagai langkah terakhir anda mulai mencari perlidungan secara hukum dengan cara menghubungi konsultan hukum. Karena sebesar apapun utang dapat dipailitkan secara hukum. Konsekuensi jika dipailitkan adalah anda tidak bisa untuk mengambil utang baru melalui bank selama minimal dalam 3 (tiga) tahun, hal ini disebabkan status utang anda di Bank Indonesia adalah menjadi 5 (lima) alias dalam kondisi macet total (pailit).

Dengan demikian dalam kondisi terdesak:  "Jangan mengambil utang baru dengan suku bunga lebih besar serta jangka waktu yang lebih singkat dari utang yang lama (dengan alasan apapun!), hal ini dapat tercermin dengan besarnya cicilan utang baru melebihi cicilan utang yang lama."

Demikian pembaca yang bijak, hal diatas menjadi acuan utama jika kita akan mengambil utang baik dalam kondisi normal maupun dalam kondisi terjepit atau terdesak.

Perlu diketahui apabila kita menggunakan utang untuk penggunaan produktif, maka utang tersebut sangat berpotensi untuk mempercepat pertumbuhan aset kita, dalam hal ini utang berfungsi sebagai pengungkit (leverage) dan akan berimbas pada pertumbuhan aset secara signifikan.

Jadi mana yang lebih baik kita menggunakan dana tunai atau dengan berutang?, jawabannya adalah jika utang tersebut kita yakini merupakan utang yang produktif maka silahkan anda berutang, namun uang tunai atau cash tersebut kita wajib dialokasikan pada instrumen investasi yang aman misalkan reksa dana pendapatan tetap atau dapat dikombinasikan dengan emas. Fungsi alokasi investasi ini adalah selain untuk lindung nilai juga berfungsi sebagai pengurang beban utang secara akumulasi.

Demikian pembaca anda tidak perlu takut untuk berutang asalkan penggunaan utang adalah secara produktif dengan syarat anda benar-benar menghitung penggunaan dana dan kemampuan bayar anda secara matang.

Sumber:  Kompas.Com
Tips Mengelola Keuangan Usaha

Tips Mengelola Keuangan Usaha

16:38
Seorang teman pernah mengeluh penghasilan dari usahanya selalu habis sebelum ditabung. Kalau pun ada yang bisa ditabung, jumlahnya hanya sedikit. Padahal, proyek yang ia terima cukup banyak. Seharusnya, usahanya bisa berjalan lancar dan hidupnya bisa senang meski sedang tidak ada order. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Hal ini mungkin pernah dialami oleh sebagian orang yang mengawali dunia usaha. Apalagi, jika usaha tergolong jenis usaha keluarga. Pada awal usaha, saat mendapat proyek, uang selalu saja habis untuk menghidupi keluarga. Istilahnya, saat sudah senang, lupa segalanya. Lupa harus bayar listrik, telepon, internet, transportasi, dan sebagainya.

Dan satu hal yang selalu terlupakan adalah mencatat semua kegiatan dan transaksi. Tak banyak usaha kecil yang melakukannya. Padahal, pencatatan adalah langkah dasar penting yang harus dilakukan untuk memajukan usaha. Lalu, bagaimana mengatur keuangan usaha yang baik?

1. Tentukan Porsi Keuangan
Cara paling mudah untuk mengatur keuangan usaha adalah dengan menyepakati sejak awal berapa porsi uang yang akan digunakan sesuai lalu lintas uang yang dibutuhkan. Misalnya, berapa jumlah uang yang akan digunakan untuk membayar gaji, operasional perusahaan, serta berapa keuntungan yang akan digunakan mengembangkan usaha dan untuk ditabung.

Untuk langkah awal, Anda bisa mencoba membagi porsi 30:30:30:10. Porsi 30 persen untuk gaji, 30 persen lagi untuk operasional perusahaan, seperti sewa kantor, biaya listrik, telepon, fax, transportasi, dan lain sebagainya. Lalu 30 persen lainnya untuk mengembangkan usaha, dan sisa 10 persen untuk tabungan pribadi.

Jadi, misalnya pemasukan sebesar Rp 20 juta, Rp 6 juta (30 persen) langsung dipotong di awal untuk disishkan sebagai gaji, Rp 6 juta untuk biaya operasional, Rp 6 juta untuk biaya pengembangan usaha, dan Rp 2 juta untuk tabungan pribadi.

Pola pembagian dengan struktur jumlah persentase ini tidak mutlak. Anda boleh menentukan sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah kedisiplinan dalam membagi berdasar nilai yang sudah disepakati di awal. Dengan cara ini, Anda akan lebih mudah mengatur keuangan usaha.

2. Pisahkan Rekening Pribadi dan Usaha
Setelah porsi ditentukan, langkah berikutnya lakukan pencatatan keuangan usaha. Memang jika usaha masih kecil, kita cenderung sering menyamakan antara uang yang diterima dalam usaha dan uang untuk kepentingan pribadi. Bahkan kita biasanya menyimpan uang itu dalam satu nomor rekening.

Padahal, jika keuangan usaha dan keuangan pribadi digabung, Anda akan kesulitan dalam melakukan monitoring pendapatan atau pun pengeluaran yang telah dilakukan. Dengan melakukan pemisahan pencatatan antara keuangan usaha dengan keuangan pribadi, maka akan lebih mudah untuk membedakan antara arus dana dari usaha dengan penggunaan uang untuk kepentingan pribadi.

Di samping itu, pemisahan pencatatan juga dapat memberikan informasi lebih jelas tentang keadaan finansial dari usaha yang sedang dijalankan. Apalagi saat ini sejumlah bank sudah menyediakan produk layanan yang dapat mendukung pencatatan keuangan usaha Anda. Di antaranya, produk Taplus Bisnis dari Bank BNI dan Tabungan SiAga Bukopin Bisnis dari Bank Bukopin.

3. Jangan Mudah Tergoda
Inilah poin yang utama sebagai bentuk usaha mendisiplinkan diri. Dan, memang kunci utama mengatur keuangan usaha adalah disiplin dalam mematuhi porsi persentase yang kita atur untuk keuangan usaha dan pribadi.

Godaan biasanya sering datang saat sedang banyak order. Barang-barang tadinya belum terlalu penting jadi seperti "minta dibeli". Ada kalanya, saat uang masuk dalam jumlah besar, tiba-tiba kita merasa butuh ini dan itu. Salah satunya, membeli baju dengan alasan agar terlihat lebih pantas saat bertemu klien.

Memang tidak ada salahnya memenuhi keinginan itu. Namun dengan catatan, Anda mesti bisa membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli sesuatu dengan alasan usaha, tanyakan dulu, apakah itu merupakan kebutuhan mendesak atau keinginan yang bisa ditunda. Nah, jawaban ini yang akan membantu Anda menentukan ke mana uang bisa digunakan.

Bila memungkinkan dan punya cukup dana, Anda bisa menggunakan software akuntansi untuk pencatatan keuangan usaha. Dengan software ini, pencatatan keuangan bisa dilakukan lebih profesional dan rapi. Dengan begitu, Anda juga tidak memiliki celah untuk seenaknya mengambil uang usaha untuk kebutuhan pribadi.

sumber: (source kompas.com)

Sunday, 22 April 2012

Priosritas Rencana Keuangan

15:39
Bagi Anda yang pernah melalui kondisi krisis keuangan pada tahun 1998 dan tahun 2008 lalu seperti saya, pasti tidak akan memungkiri bahwa merencanakan keuangan tersebut semakin penting. Namun mempunyai rencana keuangan saja tidak cukup. Yang lebih penting, Anda harus tepat dalam menyusun prioritas rencana keuangan.

Meski Anda telah menyusun rencana sangat identik yang disesuaikan dengan investasi, sebetulnya ada skala prioritas yang berlaku untuk semua orang dalam membuat perencanaan keuangan. Apakah itu?

Pekan lalu, kantor saya mengadakan pelatihan membuat rencana keuangan untuk para pemula. Pada hari kedua, para peserta berkesempatan melakukan konsultasi one on one dengan para financial planner, dan melakukan financial check up sebagai tahap awal. Sehingga, sepulang dari pelatihan, setiap peserta pasti memiliki rencana keuangan yang disusun sendiri dengan bantuan para financial planner.

Di antara belasan peserta pelatihan tersebut terselip beberapa orang yang ternyata mampu menyisihkan 10% lebih dari gaji bulanannya. Jadi, seharusnya ada sisa arus kas hingga jutaan rupiah yang bisa disisihkan setiap tahun. Misalnya Rp 50 juta.

Ternyata, saya tidak bisa menemukan saldo tabungan yang seharusnya bernilai minimal Rp 50 juta. Nah, kemana larinya uang tersebut?

Saat membuat perencanaan keuangan, kita harus memulai dari prioritas yang paling tinggi. Apakah untuk investasi? Tentu saja bukan!

Pertama, kita harus mengecek dan melunasi utang konsumtif. Ayo periksa daftar utang kita, masih adakah saldo utang kartu kredit dan saldo utang kredit tanpa agunan? Jika ada, maka lunasi dulu utang ini dengan duit tabungan yang Anda miliki.

Jika Anda gemar membayar tagihan kartu kredit dengan angka yang tetap, misalnya Rp 5 juta per bulan, hilangkanlah kebiasaan itu. Kita harus selalu membayar lunas pemakaian kartu kredit, berapapun jumlah tagihannya.

Kedua, arus kas harus positif. Ini berlaku untuk arus kas bulanan dan arus kas tahunan. Pos pengeluaran rumahtangga, tagihan listrik, belanja bulanan, serta belanja pribadi, harus bisa dibayar dari gaji bulanan. Sedangkan biaya liburan, Pajak Bumi dan Bangunan, biaya kurban, dan pengeluaran lain harus bisa dibayar dari dana bonus dan tunjangan hari raya (THR).

Kalau Anda bukan karyawan tetap, saat mendapat uang, biasakan langsung membagi jumlahnya untuk 12 bulan. Nah, bagaimana caranya supaya arus kas positif? Gampang, jangan besar pasak daripada tiang!

Ketiga, mempunyai dana darurat. Setelah arus kas kita positif, maka prioritas ketiga adalah memiliki dana darurat. Ketika menghadapi kondisi atau kebutuhan tak terduga, yang berperan banyak adalah dana darurat. Pasalnya, fungsi asuransi hanya untuk menggantikan duit setelah klaim kejadian diterima.

Nah, produk untuk menyimpan dana darurat tentu saja harus merupakan instrumen keuangan yang sangat likuid dan berisiko rendah. Suka atau tidak, tabungan merupakan tempat terbaik untuk menyimpan dana darurat tersebut. Jika target ideal sudah tercapai, Anda bisa menyimpan kelebihan duit di reksadana pasar uang, obligasi ritel Indonesia (ORI), atau bahkan emas.

Membeli produk asuransi

Keempat, menentukan tujuan keuangan. Esensi utama dari sebuah rencana keuangan adalah memiliki tujuan keuangan. Mimpi-mimpi bukanlah tujuan keuangan. Investasi juga bukan tujuan keuangan, karena investasi adalah salah satu strategi mencapai tujuan keuangan.

Sebuah tujuan harus mempunyai target biaya, jangka waktu, dan strategi untuk mencapainya. Kalau tidak, itu namanya hanyalah karya sastra.

Kelima, menerapkan strategi sesuai dengan tujuan keuangan. Nah, bagian ini adalah sebuah tantangan tersendiri bagi banyak orang yang mencoba membuat rencana keuangan sendiri. Namun hal tersebut bukan mustahil dilakukan, melainkan harus dipilih secara cermat sesuai dengan profil risiko Anda, sumber dana, jangka waktu dan target return yang diinginkan.

Sebelum menentukan produknya, Anda wajib mengisi kuesioner profil risiko. Tujuannya untuk mengetahui apakah Anda seorang yang konservatif (tipe penabung sejati), moderat (setengah menabung, setengah investasi), atau seorang yang agresif (tipe pencari return setinggi-tingginya).

Keenam, membeli produk asuransi yang disesuaikan dengan kebutuhan. Fenomena menarik dari hasil survei yang dilakukan kantor kami adalah banyak masyarakat sudah mulai berasuransi. Tapi di antara mereka sangat sedikit yang paham betul asuransi apa yang dibelinya. Kebutuhan asuransi juga harus menjadi prioritas karena kita mungkin tidak memiliki kemampuan untuk membayar premi secara ideal. Urutan wajib asuransi adalah asuransi jiwa (buat yang mempunyai tanggungan), asuransi kesehatan dan asuransi kerugian.

Saya kembali mengingatkan, asuransi itu bukan investasi. Anda harus memenuhi kebutuhan perlindungan penghasilan dengan asuransi, dan mencukupi kebutuhan untuk mencapai target saldo dengan investasi. Pastikan juga, investasi yang kita dimiliki sepenuhnya di bawah kendali Anda. Jadi, tidak diprioritaskan untuk membayar premi asuransi secara otomatis.

Berdasarkan pemaparan tersebut, saya meyakini bahwa setiap orang pasti dapat memiliki perencanaan keuangan. Dengan menggunakan skala prioritas yang tepat, kehidupan yang lebih indah dan sejahtera seperti yang diinginkan bakal lebih cepat terwujud.

Namun rencana saja tidak cukup. Kita harus melakukan aksi nyata. People first, money later. Sayangi diri Anda dan keluarga dengan memberikan yang terbaik untuk kehidupan. Live a Beautiful Life!

Thursday, 22 March 2012

Cara Bijak menggunakan Kartu Kredit

16:35
Kepraktisan dan kemudahan menjadi alasan utama sebagian orang menggunakan lebih dari satu kartu kredit. Kartu kredit tak hanya memudahkan saat berbelanja (karena tak usah membawa uang tunai), tetapi juga bermanfaat saat Anda membayar tagihan hotel ketika sedang ke luar negeri misalnya.

Kartu kredit menjadi bermasalah ketika Anda tak punya kontrol diri dalam menggunakannya. Jadi, sebelum memiliki kartu kredit, penting untuk memahami bagaimana menggunakannya dengan cerdas.

Syafriady Hutagalung, perencana keuangan, dalam tulisannya di Financial Consultant Group mendefinisikan kartu kredit adalah salah satu bentuk rekening pinjaman yang dapat digunakan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang ditentukan. Pria yang akrab disapa Adhie ini melanjutkan, dalam rekening pinjaman telah ditentukan batas maksimal yang dapat digunakan oleh peminjam. Peminjam dapat menggunakan dana tersebut terus-menerus asalkan tidak mencapai batas maksimal. Setiap kali pelunasan hutang dari pinjaman akan mengurangi balance di rekening. Hal ini berarti dana yang dapat dipakai juga meningkat.

Penting dicatat, pengguna kartu kredit adalah peminjam. Jadi, pastikan Anda memiliki self control yang kuat agar bijak menggunakan pinjaman. Bagaimanapun kartu kredit adalah utang.

Adhie menjelaskan, ada beberapa kelemahan dan keuntungan menggunakan kartu kredit:

Keuntungan:


1. Anda tak akan dikenakan bunga jika membayar utang Anda sampai lunas di bawah grace period (sebelum jatuh tempo) dalam waktu 25-30 hari.
2. Menyederhanakan pencatatan karena perusahaan kartu kredit akan mengirimkan laporan ke rekening Anda.
3. Kenyamanan dan dapat digunakan saat tidak memiliki dana tunai untuk keperluan mendadak.
4. Resikonya lebih rendah dibandingkan dengan membawa uang tunai.
5. Dapat digunakan di seluruh dunia karena pihak bank penerbit bekerja sama dengan jaringan keuangan internasional yang diakui di seluruh dunia.
6. Manfaat luas karena saat ini pihak bank penerbit sudah bekerja sama dengan beberapa merchant untuk memberikan diskon khusus dengan kartu kredit.

Kelemahan:

1. Anda cenderung berbelanja lebih banyak dengan kartu kredit sehingga kecenderungan konsumerisme lebih tinggi.
2. Suku bunga tinggi. Anda harus membayar bunga yang tinggi untuk balance yang belum juga terbayarkan.

Trik:

1. Simpan kartu kredit untuk pembayaran dengan sistem cicilan. Jangan terjebak untuk selalu mengandalkan pembayaran melalui kartu kredit kalau Anda hanya bisa membayar pinjaman dengan cicilan.
2. Jangan membeli kebutuhan sehari-hari melalui kartu kredit karena Anda akan kecanduan kemudian terjebak dengan utang konsumtif. Bayarlah tunai untuk kebutuhan dasar harian, dan simpan kartu kredit Anda di rumah.
3. Bayarlah tagihan Anda sebelum jatuh tempo untuk menghindari bunga.
4. Bayarlah tagihan Anda sebesar jumlah belanjaan. Artinya, jangan memanjakan diri dengan menunda pembayaran tagihan. Jika tak sanggup, maka kontrol diri untuk tidak melulu belanja dengan kartu kredit.

Sumber: Kompas.com

Thursday, 15 March 2012

Visi Perencanaan Ekonomi bagi TKI

16:26
Salah satu penyebab meledaknya arus keberangkatan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke beberapa negara. adalah rendahnya kesempatan kerja, serta tiadanya jaminan keamanan sosial bagi pekerjaan informal seperti pertanian dari pemerintah, mendorong tingginya angka ketertarikan orang Indonesia untuk mengadu nasib di luar negeri, seperti Malaysia, Arab Saudi, Korea, Jepang, Hongkong, Taiwan dll.

Bekerja di luar negeri memang menjanjikan dari segi keuangan. Pekerja di beberapa negara berkesempatan untuk memperoleh penghasilan yang cukup baik. Meski demikian patut dipertimbangkan bahwa bekerja di luar negeri membutuhkan pelbagai kesiapan menghadapi tantangan yang tidak sedikit.

Persoalan yang dihadapi TKI atau buruh migran tidak hanya terkait dengan tempat kerja, majikan, PJTKI dan elemen-elemen eksternal lainnya, melainkan juga ditimbulkan oleh TKI itu sendiri. Salah satu persoalan yang kerap mengemuka adalah persoalan pengelolaan ekonomi TKI. Gaji yang besar, penghasilan yang cukup dan upah yang menarik harus dapat dikelola dengan baik agar dapat menghindarkan TKI dari ketergantungan untuk bekerja di luar negeri setelah kepulangan ke Indonesia.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa TKI tidak memiliki perencanaan yang cukup baik terkait dengan penghasilan yang diperoleh dari bekerja di luar negeri. Hanin, seorang TKI dari Blitar bercerita tentang kegagalannya mengelola uang cash yang dimiliki sepulang dari Hongkong membuatnya harus kembali ke negeri itu dua kali. Pada kepulangan pertama, Hanin dan keluarga banyak menghabiskan pendapatannya dari bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong untuk membeli perabotan dan aksesoris rumah. Hasilnya, dalam hitungan 1 tahun uang tersebut nyaris tidak bersisa kecuali untuk membiayai keberangkatan keduanya ke Hongkong.

Pengalaman tersebut membuat Hanin mengambil langkah berbeda untuk mengelola keuangan paska kepulangan keduanya dari Hongkong. Ia bersama suami membuat rencana penggunaan uang yang dihasilkan dari bekerja di Hongkong. Ia dan suami memutuskan untuk membeli sebidang tanah untuk bertani dan membuka sebuah kios kelontong kecil di dekat rumahnya. Kini ia tidak perlu lagi berangkat ke luar negeri karena penghasilan dari bertani dan mengelola toko kelontong sudah mencukupi pembiayaan hidup keluarga.

“Siapa yang mau terusan kerja di luar negeri? Anak-anak sudah besar dan mereka ndak boleh ditinggal terus,” tukas Hanin.

Kisah sukses Hanin ini mungkin banyak terjadi, namun juga kisah kegagalan pengelolaan juga banyak dialami oleh TKI yang pulang dari luar negeri. Rasa senang karena memiliki uang yang cukup saat sepulang dari luar negeri, harus dikendalikan dengan perencanaan pengembangan ekonomi keluarga.

Beberapa perencanaan dapat dilakukan dengan melihat kemampuan TKI dan keluarga untuk mengelola. Namun, secara umum perencanaan ekonomi dapat dilakukan melakukan pertimbangan sebagai berikut:

  1. Belilah aset yang dapat berkembang secara ekonomi dan bernilai produksi, seperti tanah pertanian.

  2. Carilah peluang usaha yang paling memungkinkan (berdasarkan potensi lokal) untuk dikembangkan dengan berbekal keuangan yang dimiliki.

  3. Aturlah pembelanjaan pribadi atau keluarga.

  4. Didik anggota keluarga untuk ikut memiliki visi pengelolaan ekonomi di keluarga sehingga pemborosan dapat ditekan

Visi ekonomi yang dipertimbangkan dengan cukup matang akan membantu mantan TKI untuk dapat membangun keuangan dan kemapanan ekonomi dengan tidak perlu untuk kembali mengadu nasib di luar negeri

Friday, 27 January 2012

Tips Agar Pengajuan KPR Anda disetujui

04:22
Pengajuan Kredit Pemilikan rumah (KPR) ke bank belum tentu akan dikabulkan, mengingat bank sangat selektif menyeleksi calon pemohon KPR. Alasannya, agar tidak menanggung kerugian, maka bank menuntut pengguna KPR mengikuti tata cara dan penyiapan dokumen.

Agar pengajuan KPR Anda lolos proses seleksi, berikut ini beberapa strategi yang perlu disimak:

Mempersiapkan dokumen

Dokumen pengajuan KPR sangat penting bagi perbankan sebagai langkah awal penilaian seseorang dinyatakan layak atau tidak mendapatkan kredit. Misalnya Anda seorang wiraswasta, maka dokumen yang dipersiapkan adalah:

- Daftar pemasok jika usahanya bergerak di bidang perdagangan
- Bukti transfer dengan pelanggan
- Catatan rekening bank minimum tiga bulan terakhir
- NPWP
- Surat izin usaha perdagangan, jika usahanya bergerak di bidang perdagangan
- Tanda daftar perusahaan (TDP).

Sementara itu, bila Anda seorang profesional atau praktisi, dokumen yang perlu disiapkan antara lain:
- Bukti transaksi dengan pelanggan
- Catatan rekening bank minimum tiga bulan terakhir
- NPWP
- Surat izin praktik beberapa profesi tertentu

Memperbaiki penampilan keuangan

Bank biasanya meminta catatan rekening untuk membuktikan jumlah uang sesuai dengan slip gaji. Apabila mendapatkan gaji secara tunai, segera mungkin memasukkannya ke dalam rekening bank sebelum menggunakannya untuk keperluan sehari-hari. Dari sinilah bank dapat menilai, bahwa Anda sebagai pemohon memiliki penghasilan rutin. Usahakan agar catatan rekening bank menunjukkan adanya pemasukan sekitar tiga bulan terakhir dari penghasilan.

Proporsional saat mencicil

Bank dapat menolak permohonan KPR Anda apabila cicilan hutan mencapai 33% dari penghasilan rutin. Bank dapat menganalisis dan mempunyai cara tersendiri untuk memperkirakan kondisi keuangan pemohon KPR, salah satunya dengan membaca pembayaran tagihan. Karena itu, pertimbangkan hutang Anda lainnya, dan segera dilunasi.

Menjaga kepercayaan bank

Bank adalah partner Anda dalam berinvestasi, sehingga penting artinya untuk menjaga kepercayaan mereka. Sekali Anda melanggar, maka kemungkinan rekam jejak Anda akan menyebar ke bank lainnya.

Untuk menjaga kepercayaan, maka setiap kali jatuh tempo segera bayar cicilan pinjaman Anda. Jangan pernah terlambat, karena keterlambatan akan mempengaruhi penilaian bank.

(*/Kompas.com)

Sunday, 22 January 2012

Nyontek Usaha...? Sah sah saja Kok.

14:07
Apa boleh kita menyontek bisnis atau kesuksesan pengusaha lain? Saya kira dalam dunia usaha, itu sah-sah saja. Apalagi bagi kita yang baru belajar memulai usaha. Purdi E Chandra sendiri ketika pertama kali buka usaha sewaktu mahasiswa dulu, dia  juga bingung mau usaha apa. Kemudian  melihat, Sky Mulyono sukses besar buka bimbingan belajar di Jakarta. Kemudian dia pikir, kenapa saya tidak buka bimbingan belajar di Yogya.

Waktu itu dia belum punya pengalaman bisnis. Pokoknya  buka saja. Tak pernah menghitung-hitung, apakah bisnis itu feasible atau tidak. Karena  yakin kalau usaha Sky Mulyono bisa sukses, maka dia pun bisa sukses.

Pendeknya kata dia memberanikan membuka usaha bimbingan belajar itu, baru hitungan bisnisnya menyusul. Bukan sebaliknya, kita banyak hitungan bisnis, tapi akhirnya usaha tak pernah muncul-muncul, dan hanya sekedar ide. Akhirnya  buka bimbingan belajar Primagama. Begitu juga, ketika Purdi E Chandra buka restoran Padang Prima Raja, saya juga meniru kesuksesan restoran Padang Sari Ratu di Jakarta.

Ini beda dengan tradisi sistem pendidikan kita di sekolah. Jadi yang namanya nyontek dilarang keras. Padahal, menurut saya orang nyontek itu kratif. Nyontek dalam bisnis itu sah-sah saja. Maka Bambang Rahmadi nyontek membuka McDonald-nya lewat franchise bisa sukses. Begitu juga pengusaha Pizza Hut, Kentucky Fried Chicken, dan masih banyak usaha lainnya.

Usaha mereka makin jadi besar juga bukan karena modal besar. Sebaliknya mereka sukses dari modal kecil. Memang tak sedikit tantangan atau kegagalan yang dialaminya. Tapi semuanya dilalui dengan sabar karena mereka ingin meraih sukses dalam usahanya.

Saya yakin, kita pun bisa demikian. Kalau orang lain maju usahanya, kita semestinya harus maju pula. Oleh karena itu menurut saya “Kita tak usah khawatir dengan resiko bisnis kalaupun itu muncul”. Hadapilah dengan sabar dan penuh percaya diri. Kita harus yakin pada usaha kita.

Memang benar apa yang pernah dikatakan Peter F. Drucker, bahwa, “ Sebenarnya tiap orang dapat belajar jadi entrepreneur sukses”. Sebab untuk jadi entrepreneur tidak ada yang misterius. Buktinya coba kalau kita jeli, sebenarnya peluang bisnis di depan mata kita, yang kita jalankan. Namun, memang akhirnya kembali pada kita. “Beranikah untuk mencoba peluang tersebut?”

Labels

Labels

Labels

Copyright © Blog'e Aji Bintara. All rights reserved. Template by CB Blogger